Jumat, 27 Mei 2016

SISIHKAN 10% UANGMU UNTUK BELI BUKU

Bantinglah otak untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya guna mencari rahasia besar yang terkandung di dalam benda besar yang bernama dunia ini, tetapi pasanglah pelita dalam hati sanubari, yaitu pelita kehidupan jiwa ( Al- Ghazali )

Sukses seseorang ditentukan oleh Perilaku, perilaku  ditentukan oleh pola pikir, pola pikir ditentukan oleh ilmu yang dimiliki, ilmu yang dimikili tergantung kemauan untuk terus belajar.

Emha Ainun Nadjib  menyampaikan “Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?”

Jelas bahwa pribadi seseorang ditentukan oleh ilmu yang dimiliki. Biasanya semakin tinggi ilmunya, semakin bijaksana seseorang dan , semakin dalam ilmunya,
Konon di Jepang, profesi guru adalah profesi yang sangat dimuliakan dan para guru di Jepang mendapatkan Gaji selangit. Mereka sadar, ilmu pengetahuanlah yang membentuk seperti apa jadinya manusia, ilmu pengetahuan yang membuat negara Jepang maju luar biasa.

Ilmu dalam karir
Dalam 21 tahun saya berkarir di dunia kerja, saya belajar banyak hal. Melihat seseorang melejit menjadi direktur, mengamati staf yang 15 tahun kemudian masih menjadi staf, melihat seorang manager yang mampu dipindah dari bagian satu ke bagian yang lain yang berbeda, melihat penjualan melesat, pun mengamati penjualan yang turun, menemukan pemimpin yang meneduhkan, ada juga pemimpin yang hanya bisa marah-marah.

21 tahun berkarir, memberikan keyakinan saya, bahwa yang membedakan orang satu dengan yang lain adalah ilmu yang dimiliki, yang membedakan prestasi adalah ilmu yang dimiliki

Setiap permasalahan yang muncul diselesaikan dengan ilmu, setiap tantangan yang diberikan dijawab dengan ilmu, menyelesaikan pekerjaan dengan ilmu, menghadapi customer ada ilmunya, membuat strategy marketing pakai ilmu, memimpin meeting ada ilmunya, dan seterusnya.

Skill, Knowledge, Attitude
Sukses ditentukan oleh 3 hal ini: skill, knowledge dan attitude. Oleh karenanya, untuk sukses seseorang harus mempelajari ketiga ilmu tersebut. Contoh seorang sales mobil dia harus belajar skill, segala hal meliputi ketrampilah diri seperti bagaimana bicara dengan pelanggan, bagaimana membuat daftar calon pembeli, ketrampilan untuk menelepon sebelum kunjungan, ketrampilan cara meyakinkan calon pembeli, ketrampilan membuat laporan dan masih banyak lagi skill yang harus dimiliki seorang sales mobil. Kedua, knowledge, pengetahuan tentang pasar, tentang kompetitor, tentang produk yang dia jual, kelebihan dan kekurangan banding kompetitor, pengetahuan tentang pelanggan, pengetahuan tentang kondisi perusahaan, dan lainnya.

Apakah setelah menguasai skill dan knowledge untuk menjadi seorang sales mobil sudah cukup? Tentu saja belum, konon kedua ilmu ini hanya akan menentukan kesuksesan sebesar 20%, nah lho? Ya benar sekali, 80% nya lagi ditentukan oleh ilmu yang ketiga, Attitude. Sikap banyak sekali diajarkan oleh para motivator, bagaimana menjadi pribadi yang semangat, disiplin, optimis, pantang menyerah, rajin, mau belajar, ramah, lapang dada, rendah hati, dan banyak sikap positif lainnya. Anda bisa belajar juga dari rekan kerja, dari atasan, dari klien, dari orang-orang yang Anda ketemu di jalan, dari manapun, termasuk dari buku, dari website, blog.

Bayangkan seorang sales tadi, memiliki skill 100, knowledge juga 100, tapi dia tidak disiplin, sukses jualan? Tentu saja tidak, skill dan knowledge 100 tapi tidak sopan terhadap calon pelanggan, jualan? Tentu tidak. Attitude sangat penting.

Sisihkan 10% uangmu untuk beli buku
Pertama kali saya bekerja di PT Merck Indonesia sebagai medical representative di tahun 1994. Dalam sebuah training karyawan baru yang berlangsung 3 minggu, salah satu trainer yang merupakan bos saya waktu itu menyampaian satu hal, yang saya ingat dan saya berusaha lakukan sampai saat ini “kalau kalian mau sukses, sisihkan 10% gajimu untuk membeli buku”. Tidak perlu dijelaskan lagi, rasanya pernyataan ini sudah saya jelaskan panjang lebar di atas. Terjemahan dari pernyataan tersebut sebenarnya lebih luas dari sekedar ‘beli buku’, tapi menggunakan 10% penghasilan untuk menuntut ilmu atau pengembangan diri. Selain membeli buku, bisa untuk mengikuti seminar, mengikuti kursus, studi banding, pameran, dan hal lainnya yang mendatangkan ilmu. Termasuk dalam 10% adalah budget untuk hangout dengan temen-temen di luar jam kantor, di sanalah banyak ilmu yang akan didapat secara langsung dari obrolan.

Menguasai ilmu diluar job deskripsi
Beberapa kali saya selamat dalam karir karena hal ini, yaitu menguasai ilmu diluar ilmu yang diperlukan untuk pekerjaan saat ini. Contoh sebagai seorang CRM manager di Telkom, saya juga belajar mengenai people development, oleh karenanya saya diberikan pekerjaan Cuma-Cuma untuk pengembangan SDM di call center. Saya juga belajar mengenai customer care, termasuk belajar mengenai design grafis, sehingga walaupun saya seorang CRM manager sering dilibatkan untuk kegiatan membuat buku departemen customer care. Tidak ada ruginya belajar ilmu yang lain.

Meskipun pekerjaans aya selama ini adalah bertanggungjawab untuk menyusun strategy penjualan dan merealisasikannya, saya juag belajar mengenai publick speakin, belajar menjadi trainer, sehingga hal ini meningkatkan kredibilitas saya. Saya menguasai photoshop, dimana dalam kondisi kepepet, karena para design grafis banyak orderan, saya kerjakan sendiri sehingga tidak membuang waktu.


Terkahir, sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang digunakan dan dibagikan kepada orang lain

Salam Smart Life
Joko Ristono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jumat, 27 Mei 2016

SISIHKAN 10% UANGMU UNTUK BELI BUKU

Bantinglah otak untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya guna mencari rahasia besar yang terkandung di dalam benda besar yang bernama dunia ini, tetapi pasanglah pelita dalam hati sanubari, yaitu pelita kehidupan jiwa ( Al- Ghazali )

Sukses seseorang ditentukan oleh Perilaku, perilaku  ditentukan oleh pola pikir, pola pikir ditentukan oleh ilmu yang dimiliki, ilmu yang dimikili tergantung kemauan untuk terus belajar.

Emha Ainun Nadjib  menyampaikan “Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?”

Jelas bahwa pribadi seseorang ditentukan oleh ilmu yang dimiliki. Biasanya semakin tinggi ilmunya, semakin bijaksana seseorang dan , semakin dalam ilmunya,
Konon di Jepang, profesi guru adalah profesi yang sangat dimuliakan dan para guru di Jepang mendapatkan Gaji selangit. Mereka sadar, ilmu pengetahuanlah yang membentuk seperti apa jadinya manusia, ilmu pengetahuan yang membuat negara Jepang maju luar biasa.

Ilmu dalam karir
Dalam 21 tahun saya berkarir di dunia kerja, saya belajar banyak hal. Melihat seseorang melejit menjadi direktur, mengamati staf yang 15 tahun kemudian masih menjadi staf, melihat seorang manager yang mampu dipindah dari bagian satu ke bagian yang lain yang berbeda, melihat penjualan melesat, pun mengamati penjualan yang turun, menemukan pemimpin yang meneduhkan, ada juga pemimpin yang hanya bisa marah-marah.

21 tahun berkarir, memberikan keyakinan saya, bahwa yang membedakan orang satu dengan yang lain adalah ilmu yang dimiliki, yang membedakan prestasi adalah ilmu yang dimiliki

Setiap permasalahan yang muncul diselesaikan dengan ilmu, setiap tantangan yang diberikan dijawab dengan ilmu, menyelesaikan pekerjaan dengan ilmu, menghadapi customer ada ilmunya, membuat strategy marketing pakai ilmu, memimpin meeting ada ilmunya, dan seterusnya.

Skill, Knowledge, Attitude
Sukses ditentukan oleh 3 hal ini: skill, knowledge dan attitude. Oleh karenanya, untuk sukses seseorang harus mempelajari ketiga ilmu tersebut. Contoh seorang sales mobil dia harus belajar skill, segala hal meliputi ketrampilah diri seperti bagaimana bicara dengan pelanggan, bagaimana membuat daftar calon pembeli, ketrampilan untuk menelepon sebelum kunjungan, ketrampilan cara meyakinkan calon pembeli, ketrampilan membuat laporan dan masih banyak lagi skill yang harus dimiliki seorang sales mobil. Kedua, knowledge, pengetahuan tentang pasar, tentang kompetitor, tentang produk yang dia jual, kelebihan dan kekurangan banding kompetitor, pengetahuan tentang pelanggan, pengetahuan tentang kondisi perusahaan, dan lainnya.

Apakah setelah menguasai skill dan knowledge untuk menjadi seorang sales mobil sudah cukup? Tentu saja belum, konon kedua ilmu ini hanya akan menentukan kesuksesan sebesar 20%, nah lho? Ya benar sekali, 80% nya lagi ditentukan oleh ilmu yang ketiga, Attitude. Sikap banyak sekali diajarkan oleh para motivator, bagaimana menjadi pribadi yang semangat, disiplin, optimis, pantang menyerah, rajin, mau belajar, ramah, lapang dada, rendah hati, dan banyak sikap positif lainnya. Anda bisa belajar juga dari rekan kerja, dari atasan, dari klien, dari orang-orang yang Anda ketemu di jalan, dari manapun, termasuk dari buku, dari website, blog.

Bayangkan seorang sales tadi, memiliki skill 100, knowledge juga 100, tapi dia tidak disiplin, sukses jualan? Tentu saja tidak, skill dan knowledge 100 tapi tidak sopan terhadap calon pelanggan, jualan? Tentu tidak. Attitude sangat penting.

Sisihkan 10% uangmu untuk beli buku
Pertama kali saya bekerja di PT Merck Indonesia sebagai medical representative di tahun 1994. Dalam sebuah training karyawan baru yang berlangsung 3 minggu, salah satu trainer yang merupakan bos saya waktu itu menyampaian satu hal, yang saya ingat dan saya berusaha lakukan sampai saat ini “kalau kalian mau sukses, sisihkan 10% gajimu untuk membeli buku”. Tidak perlu dijelaskan lagi, rasanya pernyataan ini sudah saya jelaskan panjang lebar di atas. Terjemahan dari pernyataan tersebut sebenarnya lebih luas dari sekedar ‘beli buku’, tapi menggunakan 10% penghasilan untuk menuntut ilmu atau pengembangan diri. Selain membeli buku, bisa untuk mengikuti seminar, mengikuti kursus, studi banding, pameran, dan hal lainnya yang mendatangkan ilmu. Termasuk dalam 10% adalah budget untuk hangout dengan temen-temen di luar jam kantor, di sanalah banyak ilmu yang akan didapat secara langsung dari obrolan.

Menguasai ilmu diluar job deskripsi
Beberapa kali saya selamat dalam karir karena hal ini, yaitu menguasai ilmu diluar ilmu yang diperlukan untuk pekerjaan saat ini. Contoh sebagai seorang CRM manager di Telkom, saya juga belajar mengenai people development, oleh karenanya saya diberikan pekerjaan Cuma-Cuma untuk pengembangan SDM di call center. Saya juga belajar mengenai customer care, termasuk belajar mengenai design grafis, sehingga walaupun saya seorang CRM manager sering dilibatkan untuk kegiatan membuat buku departemen customer care. Tidak ada ruginya belajar ilmu yang lain.

Meskipun pekerjaans aya selama ini adalah bertanggungjawab untuk menyusun strategy penjualan dan merealisasikannya, saya juag belajar mengenai publick speakin, belajar menjadi trainer, sehingga hal ini meningkatkan kredibilitas saya. Saya menguasai photoshop, dimana dalam kondisi kepepet, karena para design grafis banyak orderan, saya kerjakan sendiri sehingga tidak membuang waktu.


Terkahir, sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang digunakan dan dibagikan kepada orang lain

Salam Smart Life
Joko Ristono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar