Selasa, 29 September 2015

SALMON DAN HIU

Ikan Salmon & ikan Hiu Pada menu ikan masakan Jepang, ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tsb masih dalam keadaan hidup, saat hendak diolah untuk disajikan. Jauh lebih nikmat dibandingkan dgn ikan salmon yg sudah diawetkan dgn es.Itu sebabnya para nelayan Jepang selalu memasukkan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan agar dlm perjalanan menuju daratan salmon² tsb tetap hidup.

Meski demikian pada kenyataannya banyak salmon yg mati di dalam kolam buatan tsb. Bagaimana cara mereka (nelayan Jepang) menyiasatinya?
 
Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil di dalam kolam tsb.
Sungguh Ajaib..!
Hiu kecil tsb "memaksa" salmon² itu terus bergerak agar jangan sampai dimangsa si hiu kecil tsb.
Akibatnya banyak ikan salmon yg tetap hidup & jumlah salmon yg mati justru menjadi sangat sedikit..!
Diam membuat kita Mati...!
Bergerak membuat kita Hidup...!
 
Lalu, Apa yg membuat kita Diam?
Saat tidak ada masalah dlm hidup dan saat kita berada dlm zona nyaman.
Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena.
Begitu terlenanya sehingga kita tdk sadar bahwa kita telah mati..!
Dan..., Apa yg membuat kita bergerak..?
Masalah..., sekali lagi..., Masalah....!
Tekanan Hidup.., dan Tekanan Kerja...
Saat masalah datang, secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua pergumulan hidup itu...
Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa...
Jangan lupa..., bahwa kita akan bisa belajar banyak dlm hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup...
Itu sebabnya syukurilah kehadiran "hiu kecil" yg terus memaksa kita utk bergerak dan tetap survive *dan menyerahkannya pada Tuhan.
 
NEVER GIVE UP!!!
Salam Smart Life
Joko Ristono

SECANGKIR KOPI KEHIDUPAN

Hasil gambar untuk kopi pagi 
Seorang guru besar/profesor berdiri di depan audiensnya memulai materi kuliah dengan menaruh stoples bening dan besar diatas meja. Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. 
 
Beliau bertanya, sudah penuh kah?
Audiens menjawab, sudah penuh.
 
Lalu sang guru mengeluarkan gundu (kelereng) dari kotaknya; dituangkannya gundu-gundu tadi ke dalam stoples, gundu mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi. 
Beliau bertanya, sudah penuh kah?
Audiens menjawab, sudah penuh.
 
Lalu sang guru mengeluarkan pasir pantai; memasukkannya ke dalam stoples tadi. Pasir mengisi sela-sela bola dan gundu hingga tidak bisa muat lagi. 
Semua sepakat stoples sudah penuh dan tidak ada yg bisa dimasukkan lagi.
 
Tapi, terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi, masuk mengisi stoples yg sudah penuh bola, gundu, dan pasir itu.
Kemudian beliau bertanya. Apakah pesan yang dapat diambil dari permainan ini?
Lantas beliau menjelaskan sendiri jawabannya. Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti stoples. Tiap kita berbeda ukuran stoplesnya.
 
Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung jawab terhadap Tuhan, orangtua, istri, anak-anak serta makan, tempat tinggal, dan kesehatan.
 
Gundu adalah hal-hal yg penting seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.
Pasir adalah yang lain-lain dalam hidup kita, seperti olah raga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, nonton film, model baju, model kendaraan dll.
 
Jika kita isi hidup dg mendahulukan pasir hingga penuh, maka gundu tidak bisa masuk. Berarti hidup kita hanya berisi hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sedangkan Tuhan dan keluarga terabaikan.
 
Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu gundu dan seterusnya seperti tadi, maka hidup kita berisi lengkap, mulai dari urusan besar, penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap.
 
Lesson learned-nya adalah: kita mesti mengelola hidup secara cerdas dan bijak, tahu menempatkan mana yg perioritas dan mana yg menjadi pelengkap.
 
Jika tidak, hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali.
Lalu sang guru bertanya, adakah kalian yang mau bertanya. Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.
 
Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya. 
Apa arti secangkir air kopi yg dituang tadi..?
Sang guru besar menjawab sebagai penutup. Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturrahmi sambil minum kopi dengan tetangga, teman, sahabat yg hebat...
 
Salam Smart Life
Joko Ristono

THE BLIND SPOT

Semua petinju profesional memiliki pelatih. Bahkan, petinju legendaris  sehebat Moh Ali sekalipun jg memiliki pelatih. Yaitu Angelo Dundee yang membantu Ali menjadi Juara dunia 3 kali. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding, sangat jelas Angelo Dundee tidak akan pernah menang.
Hasil gambar untuk blind spot 
Mungkin kita ber-tanya2, mengapa Moh. Ali butuh pelatih kalau jelas dia pasti menang melawan pelatihnya? 
Ketahuilah bahwa Moh.Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, tapi karena ia membutuhkan seseorang untuk melihat hal2 yang "TIDAK DAPAT DIA LIHAT SENDIRI"
Hal yg tidak dapat kita lihat dgn mata sendiri itu yg disebut: "BLIND SPOT" atau "TITIK BUTA". Kita hanya bisa melihat "BLIND SPOT" dengan bantuan orang lain.
Dalam hidup, kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser.
Kita butuh orang lain YANG :
  • Menasihati,
  • Mengingatkan, bahkan.....
  • Menegur jika kita mulai melakukan sesuatu hal yg keliru, yg mungkin tidak kita sadari.

Kita butuh KERENDAHAN HATI untuk :
  • Menerima kritikan,
  • Menerima nasihat, dan 
  • Menerima teguran.......
Itulah yang justru menyelamatkan kita. Kita bukan manusia sempurna.
Jadi, biarkan orang lain menjadi "mata" kita di area 'Blind Spot' kita, sehingga KITA BISA MELIHAT apa yang TIDAK BISA KITA LIHAT dgn 'pandangan' kita sendiri...
Mari kita saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran
Salam Smart Life
Joko Ristono

Jumat, 11 September 2015

KENAPA TUKANG OJEK DI GOJEK BISA MENDAPATKAN INCOME HINGGA 10 JUTA


Sejumlah media menulis kisah yang menggugah. Jika tekun menarik order, seorang tukang ojek di Gojek bisa mendapatkan income hingga Rp 10 juta per bulan.

Sebuan pencapaian yang sangat mengesankan. Terutama untuk profesi yang selama ini dianggap kelas pinggiran.

Kisah tentang Gojek adalah narasi tentang social innovation, keajaiban teknologi aplikasi, dan kejeniusan ilmu supply chain management.

Mari kita bedah satu demi satu dengan renyah.

Sejatinya GOJEK adalah perusahaan penyedia jasa transportasi yang berbasis pada kekuatan magis teknologi aplikasi. The power of Apps.

Salah satu sumber inefisiensi layanan tukang ojek adalah masa ngetem yang terlalu lama. Idle time kalau dalam bahasa supply chain management. Waktu kosong yang hilang sia-sia.

Gojek dengan kekuatan aplikasinya yang real time mampu memotong masa tunggu itu (ngetem untuk dapat order) dengan dramatis. Ribuan calon pelanggan yang telah mendownload aplikasi Gojek yang user friendly – dibuat untuk mudah melakukan pemesanan order pengiriman (entah jasa antar orang, dokumen atau barang).

Lantas ribuan order yang terkumpul itu, di-distribusikan oleh Gojek ke ribuan armadanya, yang berada pada titik paling dekat dengan yang memberi order, secara real time, seketika. Proses ini berlangsung secara kontinyu, real time.

Dengan proses seperti itulah, maka level produktivitas pengojek naik secara sangat signifikan. Dengan kekuatan ajaib aplikasi yang bersifat real time, masa tunggu pengojek bisa ditekan hingga nyaris titik nol.

Apa yang terjadi saat produktivitas naik secara dramatis. Otomatis, income juga bisa melesat ke level yang tak terbayangkan.

Just In Time Inventory. Ini adalah prinsip legendaris perusahan-perusahaan hebat Jepang seperti Toyota. Saat masa tunggu inventory bisa dibuat menjadi zero.

Dan persis prinsip seperti itulah yang diterapkan oleh Gojek dengan kekuatan aplikasinya. Hasilnya adalah keajaiban : "Seorang tukang ojek bisa mendapat income 10 juta per bulan".

Gojek mungkin contoh keindahan inovasi sosial berbasis teknologi, bagaimana kekuatan aplikasi (digital apps) bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan ekonomi kaum kelas pinggiran (tukang ojek).

Ya, niatan untuk mengentaskan kemiskinan memang tidak diperoleh dengan demo, spanduk, rapat di gedung parlemen atau teriak-teriak di jalanan. Kekuatan sebuah aplikasi yang jenius acap jauh lebih powerful dari itu semua. This is the beauty of digital technology.

Namun inovasi sosial yang jenius dari Gojek ini mendapatkan tantangan dari DUA KEKUATAN. Dan keduanya bisa menghancurkan bisnis Gojek.

Yang pertama adalah resistensi dari para TUKANG OJEK PANGKALAN. Ini adalah potret muram dari proses inovasi teknologi, bagaimana kekuatan otak (kemudahan teknologi digital ) harus berhadapan dengan kekuatan otot yang enggan menerima proses perubahan zaman.

Dan kita tahu, pertempuran melawan kekuatan otot acap jauh lebih melelahkan dibanding harus bertarung melawan kekuatan otak.

Proses inovasi teknologi memang kadang justru gagal karena masyarakatnya sendiri secara sosiologis tidak siap menerima perubahan. Fenomena yang juga lazim terjadi dalam berbagai kisah perubahan korporat (corporate transformation process).

Status quo dan comfort zone kadang menjadi dua algojo yang acap sukses menjegal potensi kekuatan inovasi.

Kekuatan kedua yang juga bisa merobohkan bisnis Gojek datang dari rival yang tak kalah menggetarkan. Yakni "GRAB BIKE". Perusahaan yang sama dengan Gojek, namun datang dari pengusaha Malaysia. Dan dengan dukungan modal hingga 2.5 triliun.

Dengan dukungan dana nyaris tak terbatas itu, Grab Bike langsung meletuskan amunisi peperangan. Mereka segera meluncurkan “predatory pricing war”. Tarif promosi ojek Grab Bike hanya Rp 5 ribu kemana saja (tarif promosi Gojek 10 ribu, dan kini sudah naik ke 15 ribu).

Grab Bike juga memberikan upah ke pengojeknya 90% dari total order, sementara Gojek hanya 80%. Grab Bike juga memberikan program berangkat umroh kepada pengojeknya yang berprestasi (akhirnya tukang ojek juga bisa naik umroh. Bukan hanya tukang bubur).

Perlawanan keras dari Grab Bike itu segera membuat Gojek agak gentar. Pricing war yang berkepanjangan pada akhirnya bisa membuat keduanya malah bangkrut. Bisnis memang kadang brutal dan tak kenal ampun.

Kita tidak tahu apakah Gojek akan bisa mengatasi perlawanan dari dua dimensi yang berbeda itu dengan sukses (resistensi dari ojek pangkalan dan rivalitas bisnis dengan Grab Bike).

Btw, pendiri Gojek sendiri, NADIEM MAKARIM, bukan anak muda sembarangan. Pria muda Jakarta ini alumnus Harvard Business School (sekolah bisnis terbaik di muka bumi).

Dengan mudah Nadiem sebenarnya bisa melamar kerja di Wall Street dengan gaji puluhan ribu dollar per bulan. Namun ia memilih pulang ke tanah airnya, demi membangun bisnis yang memberdayakan kaum kelas pinggiran. Melalui kekuatan aplikasi digital.

Jajaran manajemen dan pendiri Gojek lainnya juga diisi oleh para alumnus dari sekolah bisnis hebat seperti University of Chicago. Dan rata-rata pernah bekerja di perusahaan kelas dunia.

Dari sisi kualitas, SDM yang menduduki peran kunci di Gojek sebenarnya setara dengan mutu SDM di perusaahaan top seperti Google, Microsoft ataupun IBM. Mereka secara kolektif adalah one of the best management brains di tanah air.

Jika bisnis Gojek berhasil, dampak mereka dalam memberdayakan ekonomi kaum kelas pinggiran bisa sangat mengesankan.

Sekali lagi, itulah kekuatan social innovation yang berbasis pada kekuatan by HBO digital.

Welcome to Digital Innovation


Salam Smart Life
Joko Ristono

Singa dan Rusa Afrika

Di afrika setiap pagi, seekor rusa terbangun dan dia harus berlari setidaknya lebih cepat daripada rusa yang paling lambat agar dia bisa hidup hari itu tanpa dimakan binatang buas.

Begitu juga halnya seekor singa, begitu terbangun dia harus berusaha berlari setidaknya lebih cepat dari pada rusa yang paling lambat. Supaya dia dapat bertahan hidup dan tidak mati kelaparan.

Tidak peduli anda mau menjadi rusa atau singa hari ini. Yang pasti hidup akan berjalan terus. Waktu akan terus bergulir tanpa menunggu siapapun. Waktu Selalu berlari cepat meninggalkan kita.

Tanamkan dalam hatimu bahwa setiap mata anda terbuka dipagi hari. Begitu anda bangun. Perlombaan sudah dimulai. Mau tidak mau anda harus berusaha sekuat tenaga mengejar segala ketinggalan anda menuju cita2 yang selama ini anda inginkan.

Perlombaan manusia memang tidak begitu dramatis seperti halnya rusa dan singa di afrika. Tapi tanpa kerja keras, tujuan yang nyata, planning serta keyakinan yang teguh. Kesuksesan tidak akan menghampiri anda.

Kenyataannya banyak orang menyia-nyiakan waktunya hanya untuk mengeluh pada hal-hal kecil. Terlalu mempermasalahkan sesuatu sehingga menghambat dan menghabiskan energi serta waktu yang di anugrahkan oleh Tuhan.

Bila kenyataannya anda adalah seekor singa atau rusa. Hampir dipastikan anda tidak memiliki waktu untuk mengeluh sedikitpun. Jadi, tinggalkan sifat bersungut-sungut dan menyalahkan segala sesuatu. Berlari terus tanpa menghiraukan segala sesuatu. Itulah yang akan membuat anda berhasil dan beruntung.

Salam Smart Life
Joko Ristono