Selasa, 24 Mei 2016

MELAKUKAN YANG PALING TIDAK INGIN DILAKUKAN

“Kalau selalu melakukan yang sudah bisa dilakukan, kapan kalian akan berkembang?” Begitu kira-kira petuah dari seorang owner perusahaan retail besar di Indonesia kepada saya dalam sebuah meeting. Saat itu adalah meeting untuk menentukan strategy tahun 2016 untuk memenangkan pasar, minimal agar perusahaan bisa bertahan di tengah-tengah banyak perusahaan yang mengalami penurunan.

Masih dalam kotak
Sebagian besar manager lini distribusi menyampaikan Ide yang itu-itu saja, yaitu program-program yang sudah pernah dilakukan, paling hanya sedikit diberi polesan seolah-olah menjadi program baru, padalah sama saja.

Sangat manusiawi, orang akan cenderung merencanakan hal yang sudah dikuasai, sudah pernah dilakukan, dengan demikian tingkat percaya diri untuk sukses akan tinggi. Kecenderungan pikiran manusia dibatasi oleh kotak, kotak pengelaman, kotak knowledge dan wawasan, hasilnya yang keluar tidak pernah lebih luas dari isi kotak.

Richard Branson, pemilik Virnin Airlines mengetakan “bila seseorang menawarkan peluang hebat, dan Anda ragu untuk bisa melakukannya, KATAKAN YAA, selanjutnya pelajari bagaimana cara melakukannya”. Hmmm setuju. Begitulah kira-kira salah satu cara untuk berkembang, toh otak kita itu memiliki kapasitas sangat besar. Konon manusia hanya menggunakan 10% kapasitas otak yang dimilikinya, terlepas hal ini miros atau fakta, kita lihat saja fakta bahwa setiap saat manusia mampu menemukan hal baru di bidang teknology, kesehatan dan lainnya. Cara keluar dari kotak adalah katakan YES pada sesuatu yang belum Anda ketahui, biarkan otak kita mencari tahu caranya.

Memilih Pekerjaan yang Mudah
Misalkan Anda sedang dalam pembentukan panitia kegiatan tertentu, dilakukan pemilihan ketua, wakil ketua, bendahara, sekretaris dan seksi-seksi. Pemilihan ketua biasanya berlangsung Alot, karena masing-masing secara manusia akan menghindari tanggungjawab utama sebagai ketua. Tibalah saatnya untuk memilih seksi-seksi dalam kepanitiaan, yang pengalaman jadi bendahara akan ditunjuk jadi bendahara, pengalaman sekretaris jadi sekretaris, biasa jadi humas akan ditunjuk jadi seksi humas, dan seterusnya. Dan proses penunjukan seksi-seksi berjalan lancar, karena masing-masing sudah berpengalaman.

Trus apa masalahnya? Yaa tidak ada masalah, justru kepanitiaan akan berjalan lancar dalam menjalankan tugas masing-masing, tapi Kapan waktunya belajar hal baru?

Dalam pekerjaan, setiap hari seorang karyawan harus menyelesaikan banyak tugas, dengan kadar kesulitan yang berbeda-beda, mulai yang paling mudah sampai yang paling susah untuk dilakukan. Secara psikologi, setelah menyelesaikan satu tugas, energi akan berkurang saat berlanjut ke tugas berikutnya. Kecenderungan kita akan mengerjakan pekerjaan yang mudah terlebih dahulu, akibatnya pada saat tiba di pekerjaa sulit yang memerlukan energi besar justru kita sudah kehabisan energi. Kedua, setelah selesai mengerjakan sebuah tugas, manusia akan berkurang kadar urgentsinya, sehingga tugas yang lain kehabisan prioritas.

Dengan demikian, cobalah untuk merubah kebiasaan, dengan cara mengerjakan pekerjaan yang sulit terlebih dahulu, pekerjaan besar terlebih dahulu, maka setelahnya akan lebih mudah Anda kerjakan. Yang susah aja sudah beres, apalagi ini pekerjaan mudah, pasti saya bisa. Yang besar aja bisa saya kerjakan, apalagi ini pekerjaan kecil.

Meningkatkan produktivitas
Pada jaman sekolah dulu, saya ingat orang tua selalu mengingatkan agar saya mengerjakan PR yang paling sulit terlebih dahulu, sekarang saya paham akan maksudnya.

Hal ini berlaku dalam pekerjaan. Metode mengerjakan tugas yang paling sulit dan paling penting terlebih dahulu untuk mengawali aktivitas, kemudian dilanjutkan dengan tugas yang lebih ringan lainnya. Diyakini cara ini juga sangat membantu meningkatkan produktivitas dan pekerjaan yang sulitpun akan terasa ringan. Penjelasannya adalah, saat energi masih penuh, mood masih bagus, motivasi optimal, Anda mengerjakan tugas yang besar.

Salam Smart Life
Joko Ristono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selasa, 24 Mei 2016

MELAKUKAN YANG PALING TIDAK INGIN DILAKUKAN

“Kalau selalu melakukan yang sudah bisa dilakukan, kapan kalian akan berkembang?” Begitu kira-kira petuah dari seorang owner perusahaan retail besar di Indonesia kepada saya dalam sebuah meeting. Saat itu adalah meeting untuk menentukan strategy tahun 2016 untuk memenangkan pasar, minimal agar perusahaan bisa bertahan di tengah-tengah banyak perusahaan yang mengalami penurunan.

Masih dalam kotak
Sebagian besar manager lini distribusi menyampaikan Ide yang itu-itu saja, yaitu program-program yang sudah pernah dilakukan, paling hanya sedikit diberi polesan seolah-olah menjadi program baru, padalah sama saja.

Sangat manusiawi, orang akan cenderung merencanakan hal yang sudah dikuasai, sudah pernah dilakukan, dengan demikian tingkat percaya diri untuk sukses akan tinggi. Kecenderungan pikiran manusia dibatasi oleh kotak, kotak pengelaman, kotak knowledge dan wawasan, hasilnya yang keluar tidak pernah lebih luas dari isi kotak.

Richard Branson, pemilik Virnin Airlines mengetakan “bila seseorang menawarkan peluang hebat, dan Anda ragu untuk bisa melakukannya, KATAKAN YAA, selanjutnya pelajari bagaimana cara melakukannya”. Hmmm setuju. Begitulah kira-kira salah satu cara untuk berkembang, toh otak kita itu memiliki kapasitas sangat besar. Konon manusia hanya menggunakan 10% kapasitas otak yang dimilikinya, terlepas hal ini miros atau fakta, kita lihat saja fakta bahwa setiap saat manusia mampu menemukan hal baru di bidang teknology, kesehatan dan lainnya. Cara keluar dari kotak adalah katakan YES pada sesuatu yang belum Anda ketahui, biarkan otak kita mencari tahu caranya.

Memilih Pekerjaan yang Mudah
Misalkan Anda sedang dalam pembentukan panitia kegiatan tertentu, dilakukan pemilihan ketua, wakil ketua, bendahara, sekretaris dan seksi-seksi. Pemilihan ketua biasanya berlangsung Alot, karena masing-masing secara manusia akan menghindari tanggungjawab utama sebagai ketua. Tibalah saatnya untuk memilih seksi-seksi dalam kepanitiaan, yang pengalaman jadi bendahara akan ditunjuk jadi bendahara, pengalaman sekretaris jadi sekretaris, biasa jadi humas akan ditunjuk jadi seksi humas, dan seterusnya. Dan proses penunjukan seksi-seksi berjalan lancar, karena masing-masing sudah berpengalaman.

Trus apa masalahnya? Yaa tidak ada masalah, justru kepanitiaan akan berjalan lancar dalam menjalankan tugas masing-masing, tapi Kapan waktunya belajar hal baru?

Dalam pekerjaan, setiap hari seorang karyawan harus menyelesaikan banyak tugas, dengan kadar kesulitan yang berbeda-beda, mulai yang paling mudah sampai yang paling susah untuk dilakukan. Secara psikologi, setelah menyelesaikan satu tugas, energi akan berkurang saat berlanjut ke tugas berikutnya. Kecenderungan kita akan mengerjakan pekerjaan yang mudah terlebih dahulu, akibatnya pada saat tiba di pekerjaa sulit yang memerlukan energi besar justru kita sudah kehabisan energi. Kedua, setelah selesai mengerjakan sebuah tugas, manusia akan berkurang kadar urgentsinya, sehingga tugas yang lain kehabisan prioritas.

Dengan demikian, cobalah untuk merubah kebiasaan, dengan cara mengerjakan pekerjaan yang sulit terlebih dahulu, pekerjaan besar terlebih dahulu, maka setelahnya akan lebih mudah Anda kerjakan. Yang susah aja sudah beres, apalagi ini pekerjaan mudah, pasti saya bisa. Yang besar aja bisa saya kerjakan, apalagi ini pekerjaan kecil.

Meningkatkan produktivitas
Pada jaman sekolah dulu, saya ingat orang tua selalu mengingatkan agar saya mengerjakan PR yang paling sulit terlebih dahulu, sekarang saya paham akan maksudnya.

Hal ini berlaku dalam pekerjaan. Metode mengerjakan tugas yang paling sulit dan paling penting terlebih dahulu untuk mengawali aktivitas, kemudian dilanjutkan dengan tugas yang lebih ringan lainnya. Diyakini cara ini juga sangat membantu meningkatkan produktivitas dan pekerjaan yang sulitpun akan terasa ringan. Penjelasannya adalah, saat energi masih penuh, mood masih bagus, motivasi optimal, Anda mengerjakan tugas yang besar.

Salam Smart Life
Joko Ristono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar