Selasa, 24 Mei 2016

KALAU MAU BERUBAH, BISA TUUH

Bagi Anda yang tinggal di Jabodetabek pasti merasakan perubahan yang luar biasa pada layanan angkutan masal kereta listrik ‘commuter line”. Kurang lebih 6-7 tahun lalu, KRL (sekarang commuter) adalah salah satu contoh potret buruk transportasi masal di Indonesia, khususnya di Jabodetabek. Kecelakaan sering sekali terjadi, gangguan hampir setaip hari terjadi yang membuat para penumpang tersiksa, gerbong ekonomi yang lebih layak disebut dengan oven raksasa berjalan, penumpang berebut pijakan kaki dengan para pedagang di dalam gerbong dan diperparah dengan jadwal kereta yang sering ngacau. Para penumpang lebih memilih tidak membeli karcis, karena mahal, mending bayar di atas cuma 1000 rupiah

Saat ini commuter sudah berani disejajarkan dengan transportasi serupa di negara maju, khususnya dari sisi pelayanan. Para pekerja dari luar jakarta lebih memilih menggunakan commuter untuk pulang pergi kantor dibandingkan dengan menggunakan mobil pribadi. Selain lebih cepat, menggunakan commuter juga lebih aman, murah tinggal duduk dan tidur.

Penolakan perubahan dari internal
Alasan buruknya pelayanan KRL adalah karena kerugian operasional yang besar, sehingga susah untuk meningkatkan pelayanan. Menambah gerbong karena sudah over capacity ‘uang dari mana’, memberbaiki peron ‘untuk operasional saja sudah minus’, memberbaiki kinerja pegawai melalui peningkatan kesejahteraan ‘gak ada dana’, dan ini menjadi lingkaran setan.

Akar dari permasalahan adalah salah pengelolaan, ratusan ribu penumpang yang tidak membeli tiket sehingga pihak KAI kurang pemasukan. Terus kalau penumpang tidak bayar salah penumpang? Kalau pertanyaan itu ditanyaan saat ini, tentu 100% salah KAI, buktinya saat ini 100% penumpang membeli tiket.

Bayangkan apa yang terjadi pada petugas yang menerima pembayaran tiket gelap di atas gerbong, saat KAI berencana melakukan pembenahan. Kantong celana kiri kanan, kantong baju kiri kanan semua penuh dengan uang ribuan. Dari hitungan saya tidak kurang dari 300 ribu sekali jalan. Lah bayangkan kembali ketika sang petugas melakukan pemeriksaan sebanyak 10 perjalan sehari, what?? 3 juta sehari, dikali 20 hari kerja Rp 60 juta, woooww, dan uang sebesar itu terancam akan hilang saat nantinya ditertibkan. (semoga data saya ini tidak valid, ngeri juga yaa kalau bener)

Contoh kenyamanan seperti ini yang akan menjadi musuh perubahan.

Tapi the show must go on, terbukti pak Jonan – Dirut KAI (saat ini menteri perhubungan) bisa membalik itu semua. Toilet kumuh yang berbayar, menjadi toilet bersih yang gratis, antrian beli tiket yang mengular dirubah menjadi tiket elektronik yang minim antrian, petugas tiket yang kewalahan menjaga penumpang nakan digantikan dengan mesin yang lebih cepat.

Pada saat mesin tiket elektronik sudah dipasang, semua orang meragukannya, termasuk saya. Mesin tersebut seolah mangkrak setelah dipasang 2 tahun yang lalu, dan saya juga mulai meyakini bahwa benar saja proyek penertipan tiket adalah perkerjaan yang tidak masuk akal. Meskipun pada akhirnya saya yang salah, begitu juga banyak orang salah yang awalnya meragukannya.

Kalau mau berubah, ya pasti bisa
Perubahan besar di KRL bisa menjadi contoh, bagaimana perubahan sedikit dengan penertipan tiket penumpang ini, bisa membalik BUMN yang merugi triliunan setahun ini bisa mendapatkan keuntungan 800 milyar di tahun pertama, wooww...

Perubahan besar juga sedang terjadi di negeri ini, di bawah pemimpin bertangan dingin Pak Jokowi, orang yang diragukan banyak orang terutama lawan politiknya. Banyak pekerjaan mangkrak selama puluhan tahun yang akhirnya di kerjakan, hukuman mati untuk bandar narkoba sempat jadi perdebatan selama puluhan tahun akhirnya dijalankan dan saat ini sedang disiapkan eksekusi tahap 3, penenggelaman ratusan kapal pencuri ikan mampu membuat takut para pencuri yang masih bergentayangan, para pejabat tidak lagi leluasa melakukan korupsi berjamaah seperti puluhan tahun terakhir. Sekali lagi, perubahan itu bukan masalah bisa atau tidak bisa, tapi masalah MAU atau TIDAK MAU.

Begitu halnya dengan kepemimpinan Ahok sebagai gubernur DKI jakarta yang mampu melakukan perubahan besar pada hal yang dulunya dianggap tidak mungkin.

Artis yang berubah profesi menjadi ustad juga banyak terjadi.

Mari kita kembalikan pada diri kita masing-masing, untuk berubah. Konon, tidak ada yang abadi di dunia ini, satu-satunya yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Sampai-sampai ada sebuah buku motivasi berjudul “berubah atau mati”. Yaa, saya setuju, bukankah agama juga mengajarkan, bahwa manusia harus lebih baik dari kemarin, kalau tidak maka akan celaka.

Salam Perubahan

Salam Smart Life
Joko Ristono




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selasa, 24 Mei 2016

KALAU MAU BERUBAH, BISA TUUH

Bagi Anda yang tinggal di Jabodetabek pasti merasakan perubahan yang luar biasa pada layanan angkutan masal kereta listrik ‘commuter line”. Kurang lebih 6-7 tahun lalu, KRL (sekarang commuter) adalah salah satu contoh potret buruk transportasi masal di Indonesia, khususnya di Jabodetabek. Kecelakaan sering sekali terjadi, gangguan hampir setaip hari terjadi yang membuat para penumpang tersiksa, gerbong ekonomi yang lebih layak disebut dengan oven raksasa berjalan, penumpang berebut pijakan kaki dengan para pedagang di dalam gerbong dan diperparah dengan jadwal kereta yang sering ngacau. Para penumpang lebih memilih tidak membeli karcis, karena mahal, mending bayar di atas cuma 1000 rupiah

Saat ini commuter sudah berani disejajarkan dengan transportasi serupa di negara maju, khususnya dari sisi pelayanan. Para pekerja dari luar jakarta lebih memilih menggunakan commuter untuk pulang pergi kantor dibandingkan dengan menggunakan mobil pribadi. Selain lebih cepat, menggunakan commuter juga lebih aman, murah tinggal duduk dan tidur.

Penolakan perubahan dari internal
Alasan buruknya pelayanan KRL adalah karena kerugian operasional yang besar, sehingga susah untuk meningkatkan pelayanan. Menambah gerbong karena sudah over capacity ‘uang dari mana’, memberbaiki peron ‘untuk operasional saja sudah minus’, memberbaiki kinerja pegawai melalui peningkatan kesejahteraan ‘gak ada dana’, dan ini menjadi lingkaran setan.

Akar dari permasalahan adalah salah pengelolaan, ratusan ribu penumpang yang tidak membeli tiket sehingga pihak KAI kurang pemasukan. Terus kalau penumpang tidak bayar salah penumpang? Kalau pertanyaan itu ditanyaan saat ini, tentu 100% salah KAI, buktinya saat ini 100% penumpang membeli tiket.

Bayangkan apa yang terjadi pada petugas yang menerima pembayaran tiket gelap di atas gerbong, saat KAI berencana melakukan pembenahan. Kantong celana kiri kanan, kantong baju kiri kanan semua penuh dengan uang ribuan. Dari hitungan saya tidak kurang dari 300 ribu sekali jalan. Lah bayangkan kembali ketika sang petugas melakukan pemeriksaan sebanyak 10 perjalan sehari, what?? 3 juta sehari, dikali 20 hari kerja Rp 60 juta, woooww, dan uang sebesar itu terancam akan hilang saat nantinya ditertibkan. (semoga data saya ini tidak valid, ngeri juga yaa kalau bener)

Contoh kenyamanan seperti ini yang akan menjadi musuh perubahan.

Tapi the show must go on, terbukti pak Jonan – Dirut KAI (saat ini menteri perhubungan) bisa membalik itu semua. Toilet kumuh yang berbayar, menjadi toilet bersih yang gratis, antrian beli tiket yang mengular dirubah menjadi tiket elektronik yang minim antrian, petugas tiket yang kewalahan menjaga penumpang nakan digantikan dengan mesin yang lebih cepat.

Pada saat mesin tiket elektronik sudah dipasang, semua orang meragukannya, termasuk saya. Mesin tersebut seolah mangkrak setelah dipasang 2 tahun yang lalu, dan saya juga mulai meyakini bahwa benar saja proyek penertipan tiket adalah perkerjaan yang tidak masuk akal. Meskipun pada akhirnya saya yang salah, begitu juga banyak orang salah yang awalnya meragukannya.

Kalau mau berubah, ya pasti bisa
Perubahan besar di KRL bisa menjadi contoh, bagaimana perubahan sedikit dengan penertipan tiket penumpang ini, bisa membalik BUMN yang merugi triliunan setahun ini bisa mendapatkan keuntungan 800 milyar di tahun pertama, wooww...

Perubahan besar juga sedang terjadi di negeri ini, di bawah pemimpin bertangan dingin Pak Jokowi, orang yang diragukan banyak orang terutama lawan politiknya. Banyak pekerjaan mangkrak selama puluhan tahun yang akhirnya di kerjakan, hukuman mati untuk bandar narkoba sempat jadi perdebatan selama puluhan tahun akhirnya dijalankan dan saat ini sedang disiapkan eksekusi tahap 3, penenggelaman ratusan kapal pencuri ikan mampu membuat takut para pencuri yang masih bergentayangan, para pejabat tidak lagi leluasa melakukan korupsi berjamaah seperti puluhan tahun terakhir. Sekali lagi, perubahan itu bukan masalah bisa atau tidak bisa, tapi masalah MAU atau TIDAK MAU.

Begitu halnya dengan kepemimpinan Ahok sebagai gubernur DKI jakarta yang mampu melakukan perubahan besar pada hal yang dulunya dianggap tidak mungkin.

Artis yang berubah profesi menjadi ustad juga banyak terjadi.

Mari kita kembalikan pada diri kita masing-masing, untuk berubah. Konon, tidak ada yang abadi di dunia ini, satu-satunya yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Sampai-sampai ada sebuah buku motivasi berjudul “berubah atau mati”. Yaa, saya setuju, bukankah agama juga mengajarkan, bahwa manusia harus lebih baik dari kemarin, kalau tidak maka akan celaka.

Salam Perubahan

Salam Smart Life
Joko Ristono




Tidak ada komentar:

Posting Komentar