Minggu, 27 November 2016

MANJAKAN DIRI ANDA

Kehidupan itu lucu, Kalau Anda tidak mau menerima apapun kecuali yang terbaik, sering kali Anda mendapatkannya – W. Somerset Maugham

Saya memiliki tetangga yang sangat apik merawat mobilnya, sangat sayang dan temasuk orang yang tidak pernah ganti mobil, meskipun sudah dipakai lebih dari 10 tahun masih kelihatan seperti mobil baru. Bogor adalah kota hujan, hampir setiap hari hujan, saking sayang dnegan mobilnya, dia dan keluarga lebih memilih naik motor plus jas hujan demi mobilnya tidak kehujanan. Trus buat apa beli mobil?

Saya ketika memiliki mobil baru, pihak design interior pasti sudah memikirkan sarung jok yang paling pas untuk design, namun selalu saya, karena saya jok kotor atau rusak, minggu pertama langsung dipasangi sarung jok murahan, yang penting jok asli tetap kinclong, kelak kalau dijual pembelinya happy. Trus buat apa beli mobil dengan interiro bagus, naik angkot saja jok...

Koleksi piring cantik tersimpan rapi oleh sang istri, dia lebih memilih menggunakan piring plastik, terlalu sayang piring mahalnya hanya sekedar dipakai makan sehari-hari. Trus buat apa punya piring? Buat warisan... 

Begitulah kehidupan kita, memiliki tapi tidak dinikmati.

Celana dalam bolong
Agus ditegur istrinya karena masih menggunakan celana dalam bolong, alasannya, toh tidak ada orang lain yang melihat, mau bolong mau sobek, mau kendor tidak berpengaruh, cuma saya dan kamu yang tahu kok! SALAH. Justru karena cuma kita yang tahu, ini akan berpengaruh terhadap hal-hal besar selanjutnya. Saat presnetasi di depan direksi, Anda akan kepikiran, bisa nggak ya saya sukses meyakinkan direksi sementara celana dalam saya bolong. Kemudian Anda makan siang dengan karyawan paling cantik di kantor, sambil menyantap makan siang yang ‘sebenarnya’ sangat nikmat, Anda kepikiran gie bisa makan siang bareng si cantik ini, tapi celana dalam saya bolong... Intinya celana dalam bolong, meskiountidak terlihat oleh siapapun ini akan sangat berbahaya, bisa berpengaruh terhadap performance.

Satu hal yang saya tahu persis, di dunia telesales atau contact center, pelanggan tidak melihat apa pakaian yang kita gunakan rapi atau bahkan hanya pakai kolor dan sandal jepit. Tapi pelanggan bisa merasakan. Coba saja Anda buat peraturan bahwa team telemarketing bebas berpakaian, boleh pakai kaos, boleh pakai sendal jepit, boleh nggak pakai make up, boleh nggak wangi, toh pelanggan nggak melihat. Bandingkan kinerjanya ketika Anda membuat peraturan ketat, bahwa staf harus pakai dasi, perempuan menggunakan blaser, wajib pakai make up, wajib pakai parfum dan tidak boleh bau mulut. Dijamin hasilnya sangat berbeda.

Celana dalam bolong akah menimbulkan perasaan bahwa kita bukanlah orang istimewa, walaupun tidak ada orang yang melihat, tapi bukankah diri kitalah yang membuat kita menjadi istimewa. Jadi ... selamat tinggal celana dalam bolong

Penampilan mempengaruhi pikiran
Saya mengenal dengan baik seorang pengusaha sukses, memiliki lebih dari 15 PT yang sudah dia dirikan. Di awal merintis karir sebagai pengusaha, dia bercerita, bahwa untuk menjadi orang sukses harus berpenampilan layaknya orang sukses, karenanya dia membeli perhiasan, ada beberapa perhiasan KW, tapi yang penting secara penampilan sudah seperti orang kaya. Kemudian untuk menjadi orang kaya, bergaya hiduplah seperti orang kaya, yang dia lakukan adalah membeli rumah dikomplek orang-orang kaya jauh sebelum dia kaya, memaksakan diri. Bergaya hidup seperti orang kaya, meeting di mall bergengsi, layaknya seorang bos yang mengundang lunch meeting atau dinner party. Itu yang dia lakukan. Saya sama sekali tidak menyangkal, karena TERBUKTI dia menjadi seorang pengusaha sukses.

Mengenakan pakaian branded, memang perlu biaya, tetapi percayalah bahwa pada saat Anda mengenakannya, secara penampilan pasti kelihatan lebih keren. Tetapi yang lebih penting, pakaian branded ini akan sangat berpengarus terhadap rasa percaya diri, rasa percaya diri akan meningkatkan produktivitas, peningkatan produktivitas berpengaruh terhadap karir yang berujung pada kemakmuran. Hal ini yang terjadi pada team telemarketing, meskipun pelanggan tidak melihat, tapi energi yang terpancar bisa dirasakan oleh pelanggan.

Work Hard Play Hard
Menikamti kopi seharga 60 ribu di tempat nongkrong di Mall, menikmati layanan spa seharga 750 ribu, melihat konser David Foster seharga 3,5 juta atau membeli motor antik seharga 75 juta, dan lainnya. Beberapa kegiatan yang memang seharusnya dilakukan, sebagai hadiah bagi diri sendiri yang sudah bekerja keras, yang sudah peras otak banting tulang untuk bekerja. Memanjakan diri seperti ini adalah sebuah bentuk keseimbangan.

Ada team sales yang bekerja Senin sampai sabtu dari pagi sampai malam. Hari minggunya team ini benar-benar memanjakan diri, yang perempuan ke salon perawatan dari pagi sampai sore, yang laki-laki pergi ke tempat karaorke dan pijat seharian. Dan mereka baru kembali ke Mess malam harinya untuk kembali bekerja esok harinya.

Kita bukan mesin, tapi kita mahkluk yang punya emosi, kalau mesin cukup diberi bahan bakar dan ganti orderdil bila ada yang rusak, manusia memerlukan perawatan tidak hanya dari sisi fisik tapi juga mental. Hanya dengan demikian, kita bisa mempertahankan produktivitas.

Salam Smart Life
Joko Ristono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minggu, 27 November 2016

MANJAKAN DIRI ANDA

Kehidupan itu lucu, Kalau Anda tidak mau menerima apapun kecuali yang terbaik, sering kali Anda mendapatkannya – W. Somerset Maugham

Saya memiliki tetangga yang sangat apik merawat mobilnya, sangat sayang dan temasuk orang yang tidak pernah ganti mobil, meskipun sudah dipakai lebih dari 10 tahun masih kelihatan seperti mobil baru. Bogor adalah kota hujan, hampir setiap hari hujan, saking sayang dnegan mobilnya, dia dan keluarga lebih memilih naik motor plus jas hujan demi mobilnya tidak kehujanan. Trus buat apa beli mobil?

Saya ketika memiliki mobil baru, pihak design interior pasti sudah memikirkan sarung jok yang paling pas untuk design, namun selalu saya, karena saya jok kotor atau rusak, minggu pertama langsung dipasangi sarung jok murahan, yang penting jok asli tetap kinclong, kelak kalau dijual pembelinya happy. Trus buat apa beli mobil dengan interiro bagus, naik angkot saja jok...

Koleksi piring cantik tersimpan rapi oleh sang istri, dia lebih memilih menggunakan piring plastik, terlalu sayang piring mahalnya hanya sekedar dipakai makan sehari-hari. Trus buat apa punya piring? Buat warisan... 

Begitulah kehidupan kita, memiliki tapi tidak dinikmati.

Celana dalam bolong
Agus ditegur istrinya karena masih menggunakan celana dalam bolong, alasannya, toh tidak ada orang lain yang melihat, mau bolong mau sobek, mau kendor tidak berpengaruh, cuma saya dan kamu yang tahu kok! SALAH. Justru karena cuma kita yang tahu, ini akan berpengaruh terhadap hal-hal besar selanjutnya. Saat presnetasi di depan direksi, Anda akan kepikiran, bisa nggak ya saya sukses meyakinkan direksi sementara celana dalam saya bolong. Kemudian Anda makan siang dengan karyawan paling cantik di kantor, sambil menyantap makan siang yang ‘sebenarnya’ sangat nikmat, Anda kepikiran gie bisa makan siang bareng si cantik ini, tapi celana dalam saya bolong... Intinya celana dalam bolong, meskiountidak terlihat oleh siapapun ini akan sangat berbahaya, bisa berpengaruh terhadap performance.

Satu hal yang saya tahu persis, di dunia telesales atau contact center, pelanggan tidak melihat apa pakaian yang kita gunakan rapi atau bahkan hanya pakai kolor dan sandal jepit. Tapi pelanggan bisa merasakan. Coba saja Anda buat peraturan bahwa team telemarketing bebas berpakaian, boleh pakai kaos, boleh pakai sendal jepit, boleh nggak pakai make up, boleh nggak wangi, toh pelanggan nggak melihat. Bandingkan kinerjanya ketika Anda membuat peraturan ketat, bahwa staf harus pakai dasi, perempuan menggunakan blaser, wajib pakai make up, wajib pakai parfum dan tidak boleh bau mulut. Dijamin hasilnya sangat berbeda.

Celana dalam bolong akah menimbulkan perasaan bahwa kita bukanlah orang istimewa, walaupun tidak ada orang yang melihat, tapi bukankah diri kitalah yang membuat kita menjadi istimewa. Jadi ... selamat tinggal celana dalam bolong

Penampilan mempengaruhi pikiran
Saya mengenal dengan baik seorang pengusaha sukses, memiliki lebih dari 15 PT yang sudah dia dirikan. Di awal merintis karir sebagai pengusaha, dia bercerita, bahwa untuk menjadi orang sukses harus berpenampilan layaknya orang sukses, karenanya dia membeli perhiasan, ada beberapa perhiasan KW, tapi yang penting secara penampilan sudah seperti orang kaya. Kemudian untuk menjadi orang kaya, bergaya hiduplah seperti orang kaya, yang dia lakukan adalah membeli rumah dikomplek orang-orang kaya jauh sebelum dia kaya, memaksakan diri. Bergaya hidup seperti orang kaya, meeting di mall bergengsi, layaknya seorang bos yang mengundang lunch meeting atau dinner party. Itu yang dia lakukan. Saya sama sekali tidak menyangkal, karena TERBUKTI dia menjadi seorang pengusaha sukses.

Mengenakan pakaian branded, memang perlu biaya, tetapi percayalah bahwa pada saat Anda mengenakannya, secara penampilan pasti kelihatan lebih keren. Tetapi yang lebih penting, pakaian branded ini akan sangat berpengarus terhadap rasa percaya diri, rasa percaya diri akan meningkatkan produktivitas, peningkatan produktivitas berpengaruh terhadap karir yang berujung pada kemakmuran. Hal ini yang terjadi pada team telemarketing, meskipun pelanggan tidak melihat, tapi energi yang terpancar bisa dirasakan oleh pelanggan.

Work Hard Play Hard
Menikamti kopi seharga 60 ribu di tempat nongkrong di Mall, menikmati layanan spa seharga 750 ribu, melihat konser David Foster seharga 3,5 juta atau membeli motor antik seharga 75 juta, dan lainnya. Beberapa kegiatan yang memang seharusnya dilakukan, sebagai hadiah bagi diri sendiri yang sudah bekerja keras, yang sudah peras otak banting tulang untuk bekerja. Memanjakan diri seperti ini adalah sebuah bentuk keseimbangan.

Ada team sales yang bekerja Senin sampai sabtu dari pagi sampai malam. Hari minggunya team ini benar-benar memanjakan diri, yang perempuan ke salon perawatan dari pagi sampai sore, yang laki-laki pergi ke tempat karaorke dan pijat seharian. Dan mereka baru kembali ke Mess malam harinya untuk kembali bekerja esok harinya.

Kita bukan mesin, tapi kita mahkluk yang punya emosi, kalau mesin cukup diberi bahan bakar dan ganti orderdil bila ada yang rusak, manusia memerlukan perawatan tidak hanya dari sisi fisik tapi juga mental. Hanya dengan demikian, kita bisa mempertahankan produktivitas.

Salam Smart Life
Joko Ristono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar