Kamis, 25 Agustus 2016

BENCANA KARENA KURANG RASA PEDULI

Di awal tahun 2016, semua orang terhentak dengan berita-berita pemerkosaan disertai pembunuhan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Kejadian-kejadian tersebut sangat mengejutkan banyak orang, bagaimana tidak, 14 pemuda ingusan yang ramai-ramai memperkosa Yuyun lalu membunuhnya, bahkan 7 diantaranya masih anak-anak. Berawal ketika para remaja ini sedang mengadakan pesta Tuak, disaat mereka sedang dalam pengaruh alkohol, Yuyun, yang entah semalam mimpi apa, lewat di jalan depan mereka. Singkat cerita tanpa rencana, tiba-tiba saja kejadian yang menggemparkan itu terjadi. Kejadian tersebut seolah tidak terduga, baik dari sisi pelakunya yang masih anak-anak atau kejadian yang terungkap yang ternyata dilakukan secara spontan.

Beberapa waktu kemudian seorang balita umur 2.5 tahun harus mengalami nasib tragis meregang nyawa setelah diperkosa oleh pemuda pengangguran 25 tahun di bogor. Tidak selang berapa lama, kejadian pemerkosaan dan pembunuhan berulang di Tangerang. Kali ini korbannya Eno, gadis 18 tahun ini meregang nyawa dengan kondisi mengenaskan di kamar mess-nya. Pelakunya seorang remaja 15 tahun dan 2 orang lagi berusia 20-an.


Ada benang merah dari ketiga peristiwa di atas, bahwa semua terjadi tanpa rencana, spontan dan bukan dilakukan oleh penjahat. Tidak ada motif yang kuat yang mendasari, kecuali hanya keadaan dan kesempatan yang memungkinkan, sehingga mereka melakukan tindakan sadis dengan enteng, seolah-olah bukan sesuatu yang besar. Sakit...

Peristiwa-peristiwa yang lebih sadis dari kisah-kisah fiktif di film sekalipun, lebih tidak masuk akal, karena bukan penjahat atau mafia pelakunya seperti di film-film. Bahkan kalau kejadian tersebut difilm-kan bisa bisa tidak akan lulus sensor.

Seandainya mereka mendapatkan perhatian
Keempat belas pemuda bukanlah penjahat yang biasa melakukan kejahatan, bahkan mungkin apa yang mereka lakukan tak pernah terlintas dalam pikiran mereka. Mereka hanyalah segerombolan pemuda yang lose control, lolos dari pengawasan orang tuanya, atau bisa jadi kegiatan pesta tuak adalah bentuk dari pelarian karena kurangnya kasih sayang keluarga.

Banyak sekali contoh di sinetron maupun kehidupan nyata, bagaimana seorang anak terjerumus Narkoba hanya karena orang tuanya sibuk yang mengakibatkan sang anak mencari pelampiasan karena kesepian. Tidak terhitung artis yang terjerat kasus narkoba dengan berbagai motif, mulai dari sepi order, depresi ataupun menggunakan narkoba sebagai gaya hidup.

Anak-anak tidak akan melakukan pesta tuak yang berujung pada pemerkosaan dan pembunuhan ketika mereka mendapatkan perhatian cukup dari keluarganya, ketika keluarganya peduli dengan apa yang anak-anak mereka lakukan, bagaimana sekolahnya, bergaul dengan siapa, dan seterusnya. Kepedulian yang akan menyelamatkan yuyun.

Ketika lingkungan dengan aparatnya peduli dengan kegiatan tidak jelas di lingkungannya, kemudian mengarahkan pada kegiatan positif tentu kejadian serupa tidak akan terjadi. Ketika pengelola mess peduli dengan para penghuni kamar, tentu Eno sampai saat ini masih bekerja sebagai karyawan pabrik. Bagaimana tidak, asrama yang memungkinkan ada lelaki tengah malam masuk ke kamar perempuan, bahkan bertiga dan terjadinya keributan pemerkosaan dan pembunuhan pun bisa dengan leluasa dilakukan pelaku tanpa menimbulkan kecurigaan. Tidak ada kepedulian untuk antisipasi.

Bencana Berawal dari ketidakpedulian
Saat ini saya tulis artikel ini, adalah hari kedua saya meninggalkan perusahaan besar tempat saya bekerja setahun terakhir. Perusahaan berusia 31 tahun, dengan aset tersebar di seluruh indonesia, 700 karyawan, ketersediaan dana dan produk yang memadai, namun saat ini dalam kondisi terpuruk, menurut owner, ini adalah kondisi terburuk sepanjang sejarah perusahaan berdiri. Dari kacamata netral saya menemukan sumber dari ‘bencana’ ini adalah miss management, dimana masing-masing level dalam copmany hanya peduli pada diri sendiri, hanya peduli pada bagiannya sendiri, tidak peka terhadap penurunan omset yang drastis. Ketika melihat ada yang tidak berjalan seperti seharusnya, namun karena bukan tugas dan tanggungjawabnya,  cuek bebek. Efek dari semua ketidakpedulian tersebut adalah, masalah terus berlarut tanpa ada upaya mencari solusi bersama. Masing-masing karyawan hanya berteriak menuntut hak-nya, di satu sisi owner juga tidak peduli dengan jeritan para karyawannya.

Bencana asap yang terjadi puluhan tahun di Sumatera Barat adalah salah satu bentuk bencana nasional yang disebabkan oleh ketidakpedulian segelintir orang tidak bertanggungjawab. Bagaimana tidak, mereka tega menciptakan wabah penyakit ISPA tanpa rasa bersalah, tega membuat negara tetangga kehilangan jarak pandang, tega merusak lingkungan. Oknum ini hanya peduli pada kantong pribadi, tidak dengan ekosistem dan lingkungan.

Korupsi yang mengakar menjadi budaya di Indonesia, tidak lain adalah karena tidak peduli dengan kepentingan orang lain, tidak peduli pada aspirasi, tidak peduli pada dosa. Banjir yang kerap terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, berawal dari hal kecil yaitu tidak peduli dengan lingkungan, atau para pembalak hutan yang serakah tidak peduli dengan kepentingan orang lain.

Yuk kita mulai dari diri kita, dari hal kecil, untuk mulai menumbuhkan rasa peduli.

Salam Smart Life
Joko Ristono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamis, 25 Agustus 2016

BENCANA KARENA KURANG RASA PEDULI

Di awal tahun 2016, semua orang terhentak dengan berita-berita pemerkosaan disertai pembunuhan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Kejadian-kejadian tersebut sangat mengejutkan banyak orang, bagaimana tidak, 14 pemuda ingusan yang ramai-ramai memperkosa Yuyun lalu membunuhnya, bahkan 7 diantaranya masih anak-anak. Berawal ketika para remaja ini sedang mengadakan pesta Tuak, disaat mereka sedang dalam pengaruh alkohol, Yuyun, yang entah semalam mimpi apa, lewat di jalan depan mereka. Singkat cerita tanpa rencana, tiba-tiba saja kejadian yang menggemparkan itu terjadi. Kejadian tersebut seolah tidak terduga, baik dari sisi pelakunya yang masih anak-anak atau kejadian yang terungkap yang ternyata dilakukan secara spontan.

Beberapa waktu kemudian seorang balita umur 2.5 tahun harus mengalami nasib tragis meregang nyawa setelah diperkosa oleh pemuda pengangguran 25 tahun di bogor. Tidak selang berapa lama, kejadian pemerkosaan dan pembunuhan berulang di Tangerang. Kali ini korbannya Eno, gadis 18 tahun ini meregang nyawa dengan kondisi mengenaskan di kamar mess-nya. Pelakunya seorang remaja 15 tahun dan 2 orang lagi berusia 20-an.


Ada benang merah dari ketiga peristiwa di atas, bahwa semua terjadi tanpa rencana, spontan dan bukan dilakukan oleh penjahat. Tidak ada motif yang kuat yang mendasari, kecuali hanya keadaan dan kesempatan yang memungkinkan, sehingga mereka melakukan tindakan sadis dengan enteng, seolah-olah bukan sesuatu yang besar. Sakit...

Peristiwa-peristiwa yang lebih sadis dari kisah-kisah fiktif di film sekalipun, lebih tidak masuk akal, karena bukan penjahat atau mafia pelakunya seperti di film-film. Bahkan kalau kejadian tersebut difilm-kan bisa bisa tidak akan lulus sensor.

Seandainya mereka mendapatkan perhatian
Keempat belas pemuda bukanlah penjahat yang biasa melakukan kejahatan, bahkan mungkin apa yang mereka lakukan tak pernah terlintas dalam pikiran mereka. Mereka hanyalah segerombolan pemuda yang lose control, lolos dari pengawasan orang tuanya, atau bisa jadi kegiatan pesta tuak adalah bentuk dari pelarian karena kurangnya kasih sayang keluarga.

Banyak sekali contoh di sinetron maupun kehidupan nyata, bagaimana seorang anak terjerumus Narkoba hanya karena orang tuanya sibuk yang mengakibatkan sang anak mencari pelampiasan karena kesepian. Tidak terhitung artis yang terjerat kasus narkoba dengan berbagai motif, mulai dari sepi order, depresi ataupun menggunakan narkoba sebagai gaya hidup.

Anak-anak tidak akan melakukan pesta tuak yang berujung pada pemerkosaan dan pembunuhan ketika mereka mendapatkan perhatian cukup dari keluarganya, ketika keluarganya peduli dengan apa yang anak-anak mereka lakukan, bagaimana sekolahnya, bergaul dengan siapa, dan seterusnya. Kepedulian yang akan menyelamatkan yuyun.

Ketika lingkungan dengan aparatnya peduli dengan kegiatan tidak jelas di lingkungannya, kemudian mengarahkan pada kegiatan positif tentu kejadian serupa tidak akan terjadi. Ketika pengelola mess peduli dengan para penghuni kamar, tentu Eno sampai saat ini masih bekerja sebagai karyawan pabrik. Bagaimana tidak, asrama yang memungkinkan ada lelaki tengah malam masuk ke kamar perempuan, bahkan bertiga dan terjadinya keributan pemerkosaan dan pembunuhan pun bisa dengan leluasa dilakukan pelaku tanpa menimbulkan kecurigaan. Tidak ada kepedulian untuk antisipasi.

Bencana Berawal dari ketidakpedulian
Saat ini saya tulis artikel ini, adalah hari kedua saya meninggalkan perusahaan besar tempat saya bekerja setahun terakhir. Perusahaan berusia 31 tahun, dengan aset tersebar di seluruh indonesia, 700 karyawan, ketersediaan dana dan produk yang memadai, namun saat ini dalam kondisi terpuruk, menurut owner, ini adalah kondisi terburuk sepanjang sejarah perusahaan berdiri. Dari kacamata netral saya menemukan sumber dari ‘bencana’ ini adalah miss management, dimana masing-masing level dalam copmany hanya peduli pada diri sendiri, hanya peduli pada bagiannya sendiri, tidak peka terhadap penurunan omset yang drastis. Ketika melihat ada yang tidak berjalan seperti seharusnya, namun karena bukan tugas dan tanggungjawabnya,  cuek bebek. Efek dari semua ketidakpedulian tersebut adalah, masalah terus berlarut tanpa ada upaya mencari solusi bersama. Masing-masing karyawan hanya berteriak menuntut hak-nya, di satu sisi owner juga tidak peduli dengan jeritan para karyawannya.

Bencana asap yang terjadi puluhan tahun di Sumatera Barat adalah salah satu bentuk bencana nasional yang disebabkan oleh ketidakpedulian segelintir orang tidak bertanggungjawab. Bagaimana tidak, mereka tega menciptakan wabah penyakit ISPA tanpa rasa bersalah, tega membuat negara tetangga kehilangan jarak pandang, tega merusak lingkungan. Oknum ini hanya peduli pada kantong pribadi, tidak dengan ekosistem dan lingkungan.

Korupsi yang mengakar menjadi budaya di Indonesia, tidak lain adalah karena tidak peduli dengan kepentingan orang lain, tidak peduli pada aspirasi, tidak peduli pada dosa. Banjir yang kerap terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, berawal dari hal kecil yaitu tidak peduli dengan lingkungan, atau para pembalak hutan yang serakah tidak peduli dengan kepentingan orang lain.

Yuk kita mulai dari diri kita, dari hal kecil, untuk mulai menumbuhkan rasa peduli.

Salam Smart Life
Joko Ristono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar