Rabu, 11 Maret 2015

SEMINAR vs TRAINING


Sahabat, entah Anda seorang public speaker atau menjadi audiens, saya tidak tahu apakah Anda pernah Sadari secara tepat apakah Anda sedang mengikuti sebuah seminar atau training...?

Sekitar satu dekade terakhir ini, ketika terjadi booming dalam dunia training di bidang pengembangan sumberdaya manusia khususnya kategori soft-skill (leadership, communication, manners, motivation, dsb), banyak orang mengiklankan program training, namun pada kenyataannya yang diberikan adalah seminar. Bahkan preview seminar!!!


Kerap saya jumpai miskonsepsi semacam ini di kegiatan belajar non-formal baik untuk inhouse maupun publik, baik Training Motivasi, Training Kepemimpinan, Training Pelayanan Prima, Training Hipnosis, Training NLP, dan lain-lainnya. Pada proposal atau brosurnya tertulis bahwa format acaranya adalah “training”. Tetapi dalam realisasinya metode yang dibawakan si ‘trainer’ bukanlah training melainkan seminar atau semiloka (setengah seminar – setengah training/workshop).


Dugaan saya, hal ini terjadi karena mereka yang menjadi narasumber belum pernah Ambil kesempatan untuk secara khusus belajar dan berlatih menjadi trainer dengan modul yang tepat. Mereka dengan niat baik dan motivasi tinggi langsung saja membuka kelas dan menjadi fasilitator di kegiatan tersebut. Hanya dengan bekal ilmu yang dikuasai, atau berpijak dari pengalaman kerja, atau juga dengan bermodal material training yang pernah diikuti, mereka langsung terjun ke dunia training.


Apakah sikap dan perilaku ini tidak baik? Tidak juga! Sebuah training atau workshop sebenarnya tidak sekedar diukur dari trainernya maupun cara mentrainingnya, tetapi terutama dari hasil yang diperoleh para trainee-nya. Sukses sebuah training ditilik dari perubahan nyata yang diperoleh para trainee di aspek pengetahuan, sikap dan terutama keterampilan mereka.

Target ini jelas sangat berbeda dengan kegiatan seminar yang lebih berorientasi pada pengembangan di aspek kognitif saja, pada penambahan pengetahuan peserta.


Nah, untuk Anda yang penasaran dan butuh mengetahui perbedaan antara Seminar dan Training secara lebih spesifik, silakan cermati perbedaan-perbedaan kunci di bawah ini:



SEMINAR
Sebutan untuk Narasumber   :Pembicara/Speaker
Jumlah peserta                         :tidak terbatas, tergantung kapasitas ruangan.
Format ruangan yang ideal    :seminar, theatre, classroom, chevron.
Urutan prioritas pola belajar :1) Visual 2) Auditory 3) Kinestetik
Pola interaksi belajar               :cenderung dan dominan satu arah:dari narasumber
kepada peserta                          :dialog lebih untuk proses tanya jawab.
Peralatan belajar                      :poster, banner, video, slide dan perlengkapan demo.
Metode belajar utama             :ceramah & demo.
Target hasil kegiatan               :Perkembangan pada aspek pengetahuan
Yang perlu dikondisikan terhadap peserta     :active listening
Bentuk aktivitas peserta         :listening, looking, thinking, writing, processing, summarizing
Kemahiran komunikasi yang menjadi faktor sukses narasumber :Penampilan dan pembawaan fisikal (nonverbal), kemampuan persuasi, kemahiran menghibur dan merancang proses pembelajaran secara kreatif dan menyenangkan.
Interaksi antar peserta           :minim atau standar saja.
Durasi kegiatan                        :45 menit hingga 3 jam
Handout                                   :umumnya hanya sedikit, berupa print-out dari slide presentasi, dengan beberapa bagian dikosongkan untuk diisi/dilengkapi sendiri oleh Peserta.




TRAINING/WORKSHOP
Sebutan untuk Narasumber  :Trainer/Fasilitator
Jumlah peserta                         :disesuaikan dengan jumlah trainernya, idealnya 1 trainer untuk maksimal 20 peserta.
Format ruangan ideal             :Rounds (dengan meja-meja bundar) dan U-shape/tapal kuda.
Urutan prioritas pola belajar :1) Kinestetik 2) Auditory 3) Visual,
Interaksi dalam belajar           :sangat interaktif, baik antara fasilitator dengan peserta maupun antar peserta.
Peralatan belajar                      :perlengkapan praktek, diagram dan flowchart visual, video contoh, sarana diskusi, dsb.
Metode belajar utama             :pengarahan singkat, diskusi kelompok, studi kasus, praktek
Target hasil belajar                  :Perkembangan pada aspek keterampilan
Yang perlu dikondisikan terhadap peserta     :active practicing
Bentuk aktivitas peserta          :listening, looking, practicing, thinking, discussing, doing, processing, creating, working, dsb.
Keterampilan komunikasi yang paling dituntut dari fasilitator:keterampilan membangun rapport, motivasi dan provokasi aktivitas, membimbing praktek, coaching, counseling dan merancang proses belajar yang berorientasi pada perubahan praktis pada perilaku peserta.
Interaksi antar peserta            :optimal dan aktif.
Durasi                                         :umumnya mulai dari 1 hari hingga 3 hari. Ada training tertentu yang sampai berdurasi 1 minggu atau 1 bulan. Tergantung banyaknya material yang diberikan.
Handout                                    :berisi banyak informasi dan panduan belajar/praktek, disamping printout dari slide presentasi.


Demikian beberapa perbedaan antara kegiatan Seminar dan Training yang saya ketahui. Pembedaan ini tentu masih sangat terbuka untuk dikoreksi, mengingat saya baru belajar dan berkecimpung di dunia seminar dan training mulai pada tahun 2000 yang lalu.


Lalu apa manfaat mengetahui distingsi antara dua kegiatan belajar non-formal ini? Tentu saja saya percaya kita akan menjadi lebih dimudahkan untuk mencanangkan target hasil, menyiapkan materi, dan membawakannya secara optimal. Anda pun dapat membantu penyelenggara acara dan pihak hotel di mana acara diadakan yang kadang belum tahu tentang perbedaan jenis-jenis acara ini.


Dalam artikel berikut saya akan sharingkan distingsi dan karakteristik berbagai kegiatan belajar non-formal lain seperti simposium, rapat terbuka, diskusi panel, dsb. Ini penting demi profesionalitas Anda sebagai Public Speaker. Selamat belajar, Sukses untuk Anda!!!
Speak Smart from the Heart.
 

FB
publicspeaking.co.id
-----------------------------------------------------------------
Anda yang Trainer Inhouse maupun profesional dan butuh Tingkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan, khususnya dalam membawakan training secara efektif dan menarik, silakan Gabung dalam program HEARTSPEAKS TRAINING FOR TRAINERS, 1-3 April 2015 di Hotel Ciputra, Jakarta Barat. Info:Winda di 021 5670 340 atau cs@heartspeaks.co.id.

Sumber: Public Speaking Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rabu, 11 Maret 2015

SEMINAR vs TRAINING


Sahabat, entah Anda seorang public speaker atau menjadi audiens, saya tidak tahu apakah Anda pernah Sadari secara tepat apakah Anda sedang mengikuti sebuah seminar atau training...?

Sekitar satu dekade terakhir ini, ketika terjadi booming dalam dunia training di bidang pengembangan sumberdaya manusia khususnya kategori soft-skill (leadership, communication, manners, motivation, dsb), banyak orang mengiklankan program training, namun pada kenyataannya yang diberikan adalah seminar. Bahkan preview seminar!!!


Kerap saya jumpai miskonsepsi semacam ini di kegiatan belajar non-formal baik untuk inhouse maupun publik, baik Training Motivasi, Training Kepemimpinan, Training Pelayanan Prima, Training Hipnosis, Training NLP, dan lain-lainnya. Pada proposal atau brosurnya tertulis bahwa format acaranya adalah “training”. Tetapi dalam realisasinya metode yang dibawakan si ‘trainer’ bukanlah training melainkan seminar atau semiloka (setengah seminar – setengah training/workshop).


Dugaan saya, hal ini terjadi karena mereka yang menjadi narasumber belum pernah Ambil kesempatan untuk secara khusus belajar dan berlatih menjadi trainer dengan modul yang tepat. Mereka dengan niat baik dan motivasi tinggi langsung saja membuka kelas dan menjadi fasilitator di kegiatan tersebut. Hanya dengan bekal ilmu yang dikuasai, atau berpijak dari pengalaman kerja, atau juga dengan bermodal material training yang pernah diikuti, mereka langsung terjun ke dunia training.


Apakah sikap dan perilaku ini tidak baik? Tidak juga! Sebuah training atau workshop sebenarnya tidak sekedar diukur dari trainernya maupun cara mentrainingnya, tetapi terutama dari hasil yang diperoleh para trainee-nya. Sukses sebuah training ditilik dari perubahan nyata yang diperoleh para trainee di aspek pengetahuan, sikap dan terutama keterampilan mereka.

Target ini jelas sangat berbeda dengan kegiatan seminar yang lebih berorientasi pada pengembangan di aspek kognitif saja, pada penambahan pengetahuan peserta.


Nah, untuk Anda yang penasaran dan butuh mengetahui perbedaan antara Seminar dan Training secara lebih spesifik, silakan cermati perbedaan-perbedaan kunci di bawah ini:



SEMINAR
Sebutan untuk Narasumber   :Pembicara/Speaker
Jumlah peserta                         :tidak terbatas, tergantung kapasitas ruangan.
Format ruangan yang ideal    :seminar, theatre, classroom, chevron.
Urutan prioritas pola belajar :1) Visual 2) Auditory 3) Kinestetik
Pola interaksi belajar               :cenderung dan dominan satu arah:dari narasumber
kepada peserta                          :dialog lebih untuk proses tanya jawab.
Peralatan belajar                      :poster, banner, video, slide dan perlengkapan demo.
Metode belajar utama             :ceramah & demo.
Target hasil kegiatan               :Perkembangan pada aspek pengetahuan
Yang perlu dikondisikan terhadap peserta     :active listening
Bentuk aktivitas peserta         :listening, looking, thinking, writing, processing, summarizing
Kemahiran komunikasi yang menjadi faktor sukses narasumber :Penampilan dan pembawaan fisikal (nonverbal), kemampuan persuasi, kemahiran menghibur dan merancang proses pembelajaran secara kreatif dan menyenangkan.
Interaksi antar peserta           :minim atau standar saja.
Durasi kegiatan                        :45 menit hingga 3 jam
Handout                                   :umumnya hanya sedikit, berupa print-out dari slide presentasi, dengan beberapa bagian dikosongkan untuk diisi/dilengkapi sendiri oleh Peserta.




TRAINING/WORKSHOP
Sebutan untuk Narasumber  :Trainer/Fasilitator
Jumlah peserta                         :disesuaikan dengan jumlah trainernya, idealnya 1 trainer untuk maksimal 20 peserta.
Format ruangan ideal             :Rounds (dengan meja-meja bundar) dan U-shape/tapal kuda.
Urutan prioritas pola belajar :1) Kinestetik 2) Auditory 3) Visual,
Interaksi dalam belajar           :sangat interaktif, baik antara fasilitator dengan peserta maupun antar peserta.
Peralatan belajar                      :perlengkapan praktek, diagram dan flowchart visual, video contoh, sarana diskusi, dsb.
Metode belajar utama             :pengarahan singkat, diskusi kelompok, studi kasus, praktek
Target hasil belajar                  :Perkembangan pada aspek keterampilan
Yang perlu dikondisikan terhadap peserta     :active practicing
Bentuk aktivitas peserta          :listening, looking, practicing, thinking, discussing, doing, processing, creating, working, dsb.
Keterampilan komunikasi yang paling dituntut dari fasilitator:keterampilan membangun rapport, motivasi dan provokasi aktivitas, membimbing praktek, coaching, counseling dan merancang proses belajar yang berorientasi pada perubahan praktis pada perilaku peserta.
Interaksi antar peserta            :optimal dan aktif.
Durasi                                         :umumnya mulai dari 1 hari hingga 3 hari. Ada training tertentu yang sampai berdurasi 1 minggu atau 1 bulan. Tergantung banyaknya material yang diberikan.
Handout                                    :berisi banyak informasi dan panduan belajar/praktek, disamping printout dari slide presentasi.


Demikian beberapa perbedaan antara kegiatan Seminar dan Training yang saya ketahui. Pembedaan ini tentu masih sangat terbuka untuk dikoreksi, mengingat saya baru belajar dan berkecimpung di dunia seminar dan training mulai pada tahun 2000 yang lalu.


Lalu apa manfaat mengetahui distingsi antara dua kegiatan belajar non-formal ini? Tentu saja saya percaya kita akan menjadi lebih dimudahkan untuk mencanangkan target hasil, menyiapkan materi, dan membawakannya secara optimal. Anda pun dapat membantu penyelenggara acara dan pihak hotel di mana acara diadakan yang kadang belum tahu tentang perbedaan jenis-jenis acara ini.


Dalam artikel berikut saya akan sharingkan distingsi dan karakteristik berbagai kegiatan belajar non-formal lain seperti simposium, rapat terbuka, diskusi panel, dsb. Ini penting demi profesionalitas Anda sebagai Public Speaker. Selamat belajar, Sukses untuk Anda!!!
Speak Smart from the Heart.
 

FB
publicspeaking.co.id
-----------------------------------------------------------------
Anda yang Trainer Inhouse maupun profesional dan butuh Tingkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan, khususnya dalam membawakan training secara efektif dan menarik, silakan Gabung dalam program HEARTSPEAKS TRAINING FOR TRAINERS, 1-3 April 2015 di Hotel Ciputra, Jakarta Barat. Info:Winda di 021 5670 340 atau cs@heartspeaks.co.id.

Sumber: Public Speaking Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar