Kamis, 19 September 2013

MEMBANGUN INTEGRITAS



http://whatwillmatter.com/wp-content/uploads/2012/10/The-Power-of-Integrity.jpg Salah satu faktor utama yang membuat kita gagal meraih kesuksesan sejati adalah hancurnya Integritas. Padahal integritas inilah yang menjadi syarat utama dan pertama yang akan mengantarkan kita meraih kesuksesan sejati.

Nilai seseorang maupun masyarakat ditemtukan oleh integritasnya. Semakin tinggi integritas yang dimilikinya, akan semakin tinggi nilainya dihadapan Tuhan maupun manusia. Sebaliknya, semakin rendah integritas seseorang atau suatu bangsa semakin merosot pula nilainya dihadapan Tuhan maupun manusia. Nilai inilah yang dalam kehidupan sosial sering disebut sebagai martabat. Maka seberapa tinggi martabat kita tergantung seberapa tinggi tingkat integritas kita masing-masing. Karenanya, tidak ada cara lain untuk menjaga martabat kecuali dengan memelihara integritas.

Disisi lain, Integritas merupakan tuntutan fitrah, menjaga integritas berarti menjadikan hidup kita selaras dan sesuai dengan fitrah insaniah. Tidak ada kontradiksi antara pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Semuanya selaras dan sejalan. Buahnya, hidup akan terasa tenang dan tenteram, jauh dari rasa galau dan gelisah.

Integritas juga sesuai dengan hukum alam semesta. Tuhan menciptakan alam raya dengan benar. Tidak ada kekeliruan atau kesalahan sedikitpun. Lihatlah bagaimana matahari dan bulan beredar sesuai dengan orbitnya secara konsisten. Perhatikan bagaimana air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Udara bergerak dari daerah yang padat ke area yang renggang. Semua berjalan sesuai dengan sunnah yang ditetapkanNya.

Maka berbuat benar dan bersikap jujur berarti memperoleh dukungan dari semua makhluk Tuhan. Karenanya orang yang punya integritas akan hidup dalam keselarasan dan harmoni dan jauh dari kontradiksi. Buahnya, hidup menjadi indah dan penuh kebahagiaan.

Dalam hidup keseharian, termasuk dalam dunia kerja dan bisnis, integritas merupakan faktor utama yang menentukan relasi antar manusia. Integritas akan melahirkan kepercayaan, sedangkan kepercayaan adalah faktor utama dalam hidup, termasuk dalam dunia kerja dan bisnis. Tidak akan ada transaksi bisnis apapun tanpa adanya kepercayaan. MOU, kontrak kerja, faktur, kwitansi dan sejenisnya hanyalah sekedar perangkat administrasi belaka. Semua itu baru bermakna bila ada kepercayaan diantara pihak-pihak yang bertransaksi.

Berbisnis dan bekerja tanpa kejujuran dan integritas sama artinya dengan menggali kuburan sendiri. Mendapat untung sesaat, setelah itu mati. Cepat atau lambat, bisnis seperti itu pasti akan hancur. Karena itu, kejujuran dan integritas harus menjadi sifat dan karakter utama para profesional dan pebisnis, karena hanya dengan itu ia bisa meraih kepercayaan dari orang lain, yang pada gilirannya akan menghasilkan keuntungan dan manfaat dan akhirnya kesuksesan sejati akan menjadi miliknya.

http://fhs215values.files.wordpress.com/2011/07/integrity.jpg 
FAKTOR PEMBENTUK INTEGRITAS

Kejujuran dan Integritas bukanlah sesuatu yang kita dapatkan begitu saja secara otomatis (Taken for Granted), melainkan sesuatu yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh dan hanya bisa dicapai dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Ada beberapa faktor yang membentuk kejujuran dan integritas.

Beberapa faktor tersebut adalah :
1. Niat yang lurus
2. Berpikir jernih
3. Bicara benar
4. Sikap terpuji
5. Keteladanan

Dalam kesempatan ini saya akan mencoba menguraikan salah satu faktor yang membentuk kejujuran dan integritas, untuk kemudian di sesi berikutnya akan saya sajikan uraian faktor berikutnya secara berurut.

1. Niat yang Lurus/Tulus

Kejujuran dan integritas harus dimulai dari niat yang lurus dan tulus. Niat memang bukanlah segala-galanya, sebab tak ada karya dan prestasi besar hanya dengan bermodal niat semata. Prestasi besar dan karya hebat hanya bisa diraih jika niat itu diwujudkan dalam aksi nyata.

Namun niat adalah dasar dari segala-galanya. Tidak akan ada karya dan prestasi apapun tanpa didahului dengan niat. Bahkan niat itulah yang menjadi ukuran bernilai atau tidaknya amal seseorang. Perbuatan yang sama akan menghasilkan nilai yang berbeda di sisi tuhan lantaran niat yang berbeda.

Dalam hidup keseharian kita, Nilai pekerjaan kita tergantung dari niat (motivasi) yang melandasinya. Seseorang yang bekerja dengan baik karena mengharapkan pujian dari atasannya dan mendapatkan kenaikan jabatan, boleh jadi akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Atasannya senang dan ia mendapatkan kenaikan pangkat. Tapi ia tidak akan mendapatkan apa-apa di sisi Tuhan.

Namun jika respon dari sang atasan tidak seperti yang diharapkannya, ia akan merasa kecewa dan tak lagi merasa perlu bekerja dengan baik. Bahkan bukan mustahil akan menjadi trouble maker yang menghambat kinerja perusahaan. Ia bukan menjadi pembawa beban, tapi malahan jadi beban, bahkan menciptakan beban-beban baru.

Berbeda halnya dengan orang yang bekerja sungguh-sungguh dengan ikhlas karena Tuhan. Baginya bekerja adalah ibadah. Karenanya ia akan berusaha keras melakukannya dengan sebaik-baiknya. Ia faham benar, semakin baik dan berkualitas ibadahnya, akan semakin tinggi ganjaran/pahala yang diterimanya di sisi Tuhan. Ia bekerja dengan baik karena Tuhan memerintahkan setiap orang yang beriman bekerja dengan baik. Ia berdisiplin lantaran Tuhan menyuruh hidup berdisiplin. Ia suka membantu dan menolong orang lain sebab Tuhan memang mengharuskan hamba-hamba-Nya untuk tolong-menolong.

Ia akan terus bekerja dengan baik apapun respon yang diterimanya dari orang sekitarnya. Jika atasan merespon dengan positif lalu menaikkan jabatannya, hal itu dinilainya sebagai nikmat tambahan dari Tuhan. Dan ia akan menjadikan jabatan dan rizki yang diterima sebagai sarana untuk meningkatkan kinerjanya.

Namun jika sang atasan ternyata cuek dan menganggap sepi kinerja yang dihasilkannya, ia tidak akan kecewa dan putus asa. Ia akan terus saja bekerja dengan baik. Ia tahu Tuhan maha melihat apa yang dikerjakannya, dan tidak akan pernah lalai mencatat amal shaleh yang dilakukan hambaNya. Sedangkan sikap sang atasan diserahkannya kepada Tuhan. Ia yakin dan percaya Tuhan akan memberikan balasan setimpal kepada mereka yang tidak berbuat adil.

Niat adalah urusan hati. Maka untuk menjaga agar niat kita ikhlas, tidak ada cara lain kecuali menjaga hati tetap bersih. Caranya buang jauh-jauh sifat-sifat dan perilaku yang merusak kebersihan hati.

Setidaknya ada tiga penyakit hati yang amat berbahaya. Yang pertama adalah takabur (sombong). Penyakit takabur berasal dari perasaan "lebih". Lebih pintar, lebih hebat, lebih kaya, lebih terhormat, lebih tinggi jabatan, dan seterusnya. Padahal tidak ada setitik debu pun hak manusia untuk sombong dan merasa lebih.

Semua berasal dari nenek moyang yang sama, yakni Adam dan Hawa. Semua kita juga berasal dari bahan baku yang sama, yakni pertemuan spermatozoa dengan sel telur.

Ketika lahir ke dunia, semua kita dalam kondisi yang sama yakni bodoh, lemah dan tidak punya apa-apa. Kita bodoh lantaran tidak tahu apa-apa, termasuk diri sendiri maupun orangtua. Yang kita tahu hanya menangis. Kita menjadi pintar dan berilmu, lantaran Tuhan berkenan memberikan ilmuNya kepada kita.

Kita lemah karena tak mampu berbuat apa-apa. Termasuk mengurus dan menolong diri sendiri. Makan, minum, buang air, membersihkan diri, semuanya ditolong oleh orang lain. Kita menjadi kuat lantaran Tuhan mengaruniai kita udara yang bersih, makanan dan minuman yang lezat dan bergizi tinggi, seperti ASI, daging, air dan sebagainya. Dengan itu Tuhan menjadikan kita sehat dan kuat, karena DIA Maha Gagah dan Maha Kuat.

Kita miskin, sebab setiap kita lahir dalam keadaan telanjang tanpa punya sehelai benangpun. Apalagi yang lebih dari itu. Kita jadi berpunya dan kaya lantaran Tuhan menganugerahkan rezeki yang berlimpah. Bukankah Tuhan satu-satunya yang Maha Pemberi Rezeki.

Tuhan amat murka kepada orang yang sombong dan takabur. Ingatlah kisah terusirnya iblis dari surga lantaran sombong dan takabur. Ia menolak perintah Tuhan menghormat Adam. Iblis merasa lebih mulia lantaran ia diciptakan dari api yang menyala, sedangkan Adam diciptakan dari tanah lempung yang hitam. Iblis juga merasa lebih senior karena diciptakan lebih dulu dari Adam. Pendeknya, kesombongan iblis bermula dari perasaan "lebih".

Dalam konteks kerja, sikap sombong dan merasa "lebih" akan menjauhkan orang dari sisi kita. Orang tidak ingin berteman, karena selalu merasa dilecehkan dan direndahkan. Padahal setiap orang ingin dihargai dan dihormati, dan tidak suka dilecehkan dan direndahkan.

Penyakit hati kedu yang amat berbahaya adalah iri hati dan dengki. Membiarkan penyakit iri hati dan dengki bersemayam dalam hati, sama artinya dengan menghancurkan diri sendiri. Di dunia hidup menjadi resah dan gelisah, sedangkan di akhirat mendapat azab yang amat pedih. Karena itu cegah penyakit iri dan dengki dengan selalu mengikhlaskan niat hanya untuk Tuhan semata, dengan begitu kita akan tetap bahagia dalam situasi dan kondisi apapun.

Jika mendapat nikmat dan sesuatu yang menyenangkan kita bersyukur. Caranya dengan menggunakan nikmat yang kita terima itu untuk menambah amal shaleh dan kebajikan. Namun jika kenyataan tak seperti yang kita harapkan, kita bersabar, karena dibaliknya pasti terdapat sejumlah kebaikan. Syukur dan sabar adalah kunci untuk sukses menjalani hidup, termasuk dalam dunia kerja.

Penyakit yang ketiga adalah riya (ingin dilihat dan dipuji orang). Penyakit ini akan membuat orang yang mengidapnya selalu dalam kelelahan dan kerisauan. Lelah karena hidupnya hanya untuk mendapat pujian orang, padahal jumlah manusia demikian banyak dengan berbagai orientasinya masing-masing. Risau karena faktanya tidak semua orang mau memujinya, malah mungkin mengejeknya.

Dalam hidup keseharian, riya juga membuat orang lain sebal. Sebab, ketika seseorang ingin dipuji, pada saat yang sama sebenarnya ia merendahkan orang lain, sedangkan setiap orang tidak ingin direndahkan.

2. Berpikir Jernih.

Upaya membangun dan mempertahankan kejujuran dan Integritas tidak cukup hanya sekedar bermodal hati yang bersih. Niat yang lurus adalah titik awal yang harus dilanjutkan dengan selalu bepikir jernih. Hati yang bersih harus terefleksikan dalam pikiran yang jernih. Hal ini penting, karena dalam realitas kehidupan termasuk dalam bekerja dan berbisnis, kita dihadapkan pada berbagai persoalan yang menuntut analisis yang cermat dan pemecahan yang cepat dan tepat. Dan hal itu hanya akan terjadi jika kita selalu berpikir jernih.

Pikiran yang jernih akan melahirkan gagasan yang brillian dan membimbing kita bekerja dengan benar. Gagasan brlillian amat diperlukan untuk memenangkan persaingan bisnis. Perubahan yang begitu cepat menuntut setiap profesional dan pelaku bisnis menghasilkan ide-ide dan kreasi baru yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pikiran yang jernih akan membuat kita dapat bekerja dengan benar. Kita bisa memahami mana yang benar dan mana yang salah, sehingga kita terhindar dari kesalahan. Jika kita terlanjur berbuat salah atau keliru, tidak akan terulang yang kedua kali.

Pikiran yang jernih juga akan membuat kita faham yang hakekat dan yang bentuk luar/relatif. Dengan begitu, kita faham benar mana yang harus dikejar dan yang hanya sekedar ada. Kita tidak terjebak dengan tampilan luar yang menipu. Salah satu yang kerap menyebabkan manusia salah jalan dan menyesal adalah karena terpesona oleh bentuk luar.

Pikiran yang jernih menjadikan kita mengerti mana yang prinsip dan mana yang teknis, yang mutlak dan yang relatif dan seterusnya. Dengan demikian kita tidak terjebak pada persoalan-persoalan kecil dan teknis dengan mengabaikan hal-hal yang prinsip dan mendasar. Dengan kata lain pikiran yang jernih akan mengantarkan kita mampu bertindak efektif, efisien, dan menempatkan sesuatu sesuai dengan prioritasnya masing-masing.

Salah satu penyebab kegagalan, termasuk dalam bekerja dan berbisnis adalah lantaran sibuk mengurusi hal-hal yang teknis, tetapi lupa kepada akar permasalahannya. Misalnya, kerap terjadi orang mengeluhkan minimnya sarana dan kurangnya fasilitas sebagai penyebab ketidakmampuannya menghasilkan kinerja terbaik. Padahal akar masalahnya adalah kurangnya etos kerja dan lemahnya kompetensi.

Pikiran yang jernih akan mendorong kita selalu persangka baik ( Husnuzh Zhan) dan berpikir positif. Kita akan sibuk mengevaluasi kekurangan diri dan kemudian berusaha memperbaikinya, ketimbang lelah mencari-cari kekurangan orang lain. Buahnya, hidup kita akan semakin produktif dan berkualitas.

Bersangka baik dan berpikir positif juga akan membuat kita mampu berpikir tenang dan jauh dari sikap emosional. Buahnya kita mampu menganalisa persoalan dengan akurat dan mendalam dan mengambil keputusan dengan tepat dan benar. Dengan kata lain, dengan berpikir jernih kita akan selalu menjadi problem solver  bukan trouble maker.

Tuhan menyuruh kita berpikir jernih, agar kita mampu menangkap hakekat dibalik apa yang nampak secara kasat mata, mengambil hikmah dibalik kejadian dan melihat jauh ke depan. Dengan demikian ia akan selalu optimis memandang masa depan.

Allah SWT berfirman ; "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang mau berpikir. Yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring dan senantiasa berpikir rahasia dibalik penciptaan langit dan bumi. Mereka berkata: Ya Tuhan kami tidaklah engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maka jauhkanlah kami dari azab neraka" (QS Ali Imran/3:190-191)

3. Bicara Benar.

Selalu berkata benar merupakan salah satu faktor yang harus dimiliki oleh seorang yang memiliki integritas. Seperti ungkapan: "Seorang yang memiliki iman itu dipegang omongannya". Maksudnya, Omongan seorang yang beriman itu harus dapat dipercaya karena taruhannya iman. Iman yang benar pasti akan melahirkan perkataan yang benar. Maka jika seseorang suka berbicara dusta dapat dipastikan imannya pun rusak. Bicara benar berarti satunya kata dengan perbuatan. Apa yang diucapkan akan selaras dengan apa yang dilakukan. Tuhan berfirman;

"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu selalu berkata benar" (QS Al Ahzab/33;70) .

Ayat ini selalu dikutip Rasulullah SAW saat beliau menyampaikan khutbah nikah. Pernikahan adalah awal seseorang memasuki kehidupan sejati orang dewasa. Karena itu pasangan suami istri harus memulainya dengan selalu berbicara benar. Dengan begitu komunikasi akan terjalin dengan baik dan rasa saling percaya akan terajut dengan kuat. Kelangsungan hidup betapapun mestilah dibangun atas dasar suatu kebenaran dan jangan dikotori dengan kebohongan.

Kehidupan suami istri yang notabene merupakan transaksi hanya antara dua individu yang berbeda saja harus dibangun dengan kebenaran, apalagi dunia kerja dan bisnis yang merupakan suatu bentuk transaksi besar yang melibatkan begitu banyak pihak dengan kepentingan yang berbeda-beda. Keharusan selalu berbicara benar itu akan sangat berpengaruh dalam kesuksesan berinteraksi dengan orang lain. Ucapan yang benar akan melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan akan menghasilkan bisnis. Agama mengajarkan kita selalu bicara benar dan baik. Jika kita tidak dapat berkata benar dan baik, lebih baik diam. Sebab berkata dusta bukan saja menyakiti hati orang lain tapi juga menipu diri sendiri. Celakanya lagi, satu kebohongan akan melahirkan berbagai kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Begitu seterusnya. Karena itu jangan sekali-kali berdusta, karena hal itu sama artinya membuka jalan untuk jadi pendusta. Sedangkan kebohongan dan dusta akan merusak dan menghancurkan Integritas diri.

Rasulullah SAW bersabda ;

"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia berkata benar dan baik atau diamlah" (HR Bukhari-Muslim).

4. Sikap dan Perilaku Terpuji

Kita tidak bisa menilai hati dan pikiran seseorang, sebab keduanya berada dalam wilayah yang abstrak. "Dalamnya laut bisa diselami, dalamnya hati siapa tahu", begitu bunyi sebuah syair. Demikian pula halnya dengan apa yang berkecamuk dalam otak seseorang, hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Kita hanya bisa menilai apa yang nampak dan kelihatan. Karenanya selain dari ucapannya integritas seseorang dapat dinilai dari sikap dan tindakannya. Jika caranya bersikap dan bertindak sesuai dengan yang dikatakannya, berarti orang tersebut memiliki integritas yang tinggi. Dengan kata lain, orang yang memiliki integritas pasti mempunyai sikap yang terpuji dan perilaku yang dapat diteladani. Dalam bahasa agama disebut akhlakul karimah (akhlak yang mulia).

Karakter seperti itulah yang dimiliki oleh Rasulullah SAW sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti agung" (QS Al Qalam/68:4).

Firman Tuhan di atas bermakna ganda. Pertama, sebagai pujian atas keagungan akhlak beliau. Kedua, sebagai penjelasan kenapa beliau yang diangkat sebagai Rasul, bukan banyak laki-laki lain dimasa itu. Risalah Tauhid yang harus diemban Rasulullah adalah amanat yang teramat besar, sehingga memerlukan orang dengan karakter dan sifat-sifat mulia pula. Jika tidak, tentu misi tersebut tidak akan dapat ditunaikan dengan baik. Karenanya, para rasul itu haruslah orang-orang terpilih diantara orang-orang pilihan (Al mustofa al akhyar).

Sejarah mencatat kemuliaan akhlak Rasulullah SAW itu sudah nampak sejak kecil, jauh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Orang-orang Arab Quraisy memberinya gelar Al-Amin (orang yang terpercaya). Kemuliaan akhlak ini pula yang menjadi kunci sukses beliau saat berniaga ke Syam (Sekarang Damaskus) bersama pamannya Abu Thalib, maupun ketika membawa barang dagangan milik Siti Khadijah. Begitu legendarisnya keluhuran akhlak beliau, sehingga belau menjadi standar harga di sana. Para pedagang belum akan menetapkan harga gandum (baik basah atau kering) sebelum beliau datang. Dan ketika beliau menetapkan harga, semua pedagang mengikutinya. Tak heran jika para saudagar Quraisy berebut memintanya membawa dagangan mereka ke Syam, sebab kafilah dagang yang dipimpin beliau selalu sukses dan membawa keuntungan yang besar. Tapi beliau lebih suka membawa dagangan pamannya atau membawa dagangan Siti Khadijah, seorang Saudagar wanita yang terkenal jujur, santun, dermawan dan berakhlak mulia, yang dikemudian hari menjadi istri beliau.

Kemuliaan akhlak adalah kata kunci kesuksesan Rasulullah SAW. Maka tak heran jika ia menjadi salah satu misi utama dakwah beliau, seperti sabdanya;

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia". Bahkan sedemikian pentingnya arti sikap terpuji dan akhlak yang mulia itu, sehingga beliau bersabda; "Sesempurna-sempurnanya iman seorang mukmin adalah yang paling mulia akhlaknya" (H.R Tirmidzi).

Kesuksesan Nabi SAW cukup menjadi bukti betapa akhlak mulia (di dalamnya ada sikap terpuji) adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin sukses dalam hidup. Termasuk dalam bekerja dan berbisnis. Dengan akhlak yang mulia kepercayaan akan terbangun, ketenangan akan tumbuh. Pada gilirannya, relasi akan semakin bertambah dan interaksi semakin terjalin. Buahnya bisnispun akan semakin menguntungkan.

5. Keteladanan.

Realitas sosial menunjukkan, contoh nyata merupakan cara paling efektif membentuk masyarakat. Baik itu yang baik maupun yang buruk.

Berbagai perilaku menyimpang yang melanda masyarakat kita hari ini tak dapat dipisahkan dari teladan buruk yang dicontohkan para pemimpin dan publik figur. Merajalelanya korupsi dan kolusi ditengah masyarakat sebenarnya sekadar mencontoh dan mengikuti apa yang dilakukan para pejabat dan pemimpin. Meluasnya perilaku amoral dan asusila di tengah masyarakat kita sesungguhnya buah dari perilaku buruk yang dicontohkan para elite dan selebritis.

Sebaliknya, teladan yang baik telah diperlihatkan Rasulullah SAW dalam kehidupannya. Beliau tidak pernah jemu mengajak manusia ke jalan Allah, kapanpun dan dimanapun. Nyaris seluruh waktu hidupnya dihabiskan untuk menyeru manusia ke jalan yang benar. Namun yang jauh lebih hebat lagi adalah keteladanan yang dicontohkannya. Beliau melakukan lebih dulu suatu kebajikan, sebelum mengajarkannya kepada orang lain. Jika para jenderal umumnya menjadi orang yang paling terakhir maju ke medan perang dan yang paling awal diselamatkan, beliau sebaliknya, Nabi SAW selalu berada di barisan terdepan para mujahidin dan paling belakangan mundur,  jika strategi perang mengharuskan mundur selangkah. Beliau bukan hanya teladan dalam perang atau kepemimpinan tapi juga teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan.

Keteladanan Rasulullah SAW yang luar biasa itu adalah pesona utama dakwah beliau. Manusia begitu tertarik dengan ajaran yang dibawanya, dan menjadi lebih tertarik lagi setelah melihat keteladanan beliau. Nabi SAW bukan sekedar mengajarkan, tapi memberi contoh. Keteladanan itu pula yang membuat para sahabat dan kaum muslimin bersikap "Sami'na Wa atho'na" terhadap apapun yang diajarkannya. Begitu luar biasanya keteladanan beliau contohkan sehingga Allah SWT mengabadikannya dalam Al Qur'an :

"Sungguh telah ada dalam diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut nama Allah" (QS Al Ahzab/33:21.

Begitulah keteladanan itu bagaikan magnet yang menarik orang di sekeliling kita. Semakin tinggi dan berpengaruh seseorang, semakin kuat magnet yang dimilikinya. Jika ia berperilaku baik, maka ia telah menarik orang berbuat baik. Tapi jika ia berperilaku buruk, sama artinya ia telah menyuruh orang banyak berperilaku buruk. Rasulullah SAW menyatakan:

"Barang siapa menunjukkan jalan kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala pelaku kebaikan tersebut" (HR. Muslim)

Dan begitulah seharusnya yang dilakukan oleh pemimpin. Pemimpin harus mau dan mampu menjadi contoh, memberikan keteladan. Banyak hal yang tidak bisa dipecahkan dengan perkataan, tapi bisa segera teratasi dengan keteladanan. Seorang pemimpin akan mengambil tanggung jawab terbesar dan bersedia menanggung resiko terbanyak. Seorang pemimpin akan berusaha menjadi panutan sekaligus juga pengayom.

Dan bukankah setiap kita adalah pemimpin, setidaknya pemimpin bagi diri kita sendiri.







Bondan Seno Prasetyadi
PT. Bahana Artha Globalindo
081212958958, 081513958958, 08111195958
 


sumber : dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamis, 19 September 2013

MEMBANGUN INTEGRITAS



http://whatwillmatter.com/wp-content/uploads/2012/10/The-Power-of-Integrity.jpg Salah satu faktor utama yang membuat kita gagal meraih kesuksesan sejati adalah hancurnya Integritas. Padahal integritas inilah yang menjadi syarat utama dan pertama yang akan mengantarkan kita meraih kesuksesan sejati.

Nilai seseorang maupun masyarakat ditemtukan oleh integritasnya. Semakin tinggi integritas yang dimilikinya, akan semakin tinggi nilainya dihadapan Tuhan maupun manusia. Sebaliknya, semakin rendah integritas seseorang atau suatu bangsa semakin merosot pula nilainya dihadapan Tuhan maupun manusia. Nilai inilah yang dalam kehidupan sosial sering disebut sebagai martabat. Maka seberapa tinggi martabat kita tergantung seberapa tinggi tingkat integritas kita masing-masing. Karenanya, tidak ada cara lain untuk menjaga martabat kecuali dengan memelihara integritas.

Disisi lain, Integritas merupakan tuntutan fitrah, menjaga integritas berarti menjadikan hidup kita selaras dan sesuai dengan fitrah insaniah. Tidak ada kontradiksi antara pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Semuanya selaras dan sejalan. Buahnya, hidup akan terasa tenang dan tenteram, jauh dari rasa galau dan gelisah.

Integritas juga sesuai dengan hukum alam semesta. Tuhan menciptakan alam raya dengan benar. Tidak ada kekeliruan atau kesalahan sedikitpun. Lihatlah bagaimana matahari dan bulan beredar sesuai dengan orbitnya secara konsisten. Perhatikan bagaimana air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Udara bergerak dari daerah yang padat ke area yang renggang. Semua berjalan sesuai dengan sunnah yang ditetapkanNya.

Maka berbuat benar dan bersikap jujur berarti memperoleh dukungan dari semua makhluk Tuhan. Karenanya orang yang punya integritas akan hidup dalam keselarasan dan harmoni dan jauh dari kontradiksi. Buahnya, hidup menjadi indah dan penuh kebahagiaan.

Dalam hidup keseharian, termasuk dalam dunia kerja dan bisnis, integritas merupakan faktor utama yang menentukan relasi antar manusia. Integritas akan melahirkan kepercayaan, sedangkan kepercayaan adalah faktor utama dalam hidup, termasuk dalam dunia kerja dan bisnis. Tidak akan ada transaksi bisnis apapun tanpa adanya kepercayaan. MOU, kontrak kerja, faktur, kwitansi dan sejenisnya hanyalah sekedar perangkat administrasi belaka. Semua itu baru bermakna bila ada kepercayaan diantara pihak-pihak yang bertransaksi.

Berbisnis dan bekerja tanpa kejujuran dan integritas sama artinya dengan menggali kuburan sendiri. Mendapat untung sesaat, setelah itu mati. Cepat atau lambat, bisnis seperti itu pasti akan hancur. Karena itu, kejujuran dan integritas harus menjadi sifat dan karakter utama para profesional dan pebisnis, karena hanya dengan itu ia bisa meraih kepercayaan dari orang lain, yang pada gilirannya akan menghasilkan keuntungan dan manfaat dan akhirnya kesuksesan sejati akan menjadi miliknya.

http://fhs215values.files.wordpress.com/2011/07/integrity.jpg 
FAKTOR PEMBENTUK INTEGRITAS

Kejujuran dan Integritas bukanlah sesuatu yang kita dapatkan begitu saja secara otomatis (Taken for Granted), melainkan sesuatu yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh dan hanya bisa dicapai dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Ada beberapa faktor yang membentuk kejujuran dan integritas.

Beberapa faktor tersebut adalah :
1. Niat yang lurus
2. Berpikir jernih
3. Bicara benar
4. Sikap terpuji
5. Keteladanan

Dalam kesempatan ini saya akan mencoba menguraikan salah satu faktor yang membentuk kejujuran dan integritas, untuk kemudian di sesi berikutnya akan saya sajikan uraian faktor berikutnya secara berurut.

1. Niat yang Lurus/Tulus

Kejujuran dan integritas harus dimulai dari niat yang lurus dan tulus. Niat memang bukanlah segala-galanya, sebab tak ada karya dan prestasi besar hanya dengan bermodal niat semata. Prestasi besar dan karya hebat hanya bisa diraih jika niat itu diwujudkan dalam aksi nyata.

Namun niat adalah dasar dari segala-galanya. Tidak akan ada karya dan prestasi apapun tanpa didahului dengan niat. Bahkan niat itulah yang menjadi ukuran bernilai atau tidaknya amal seseorang. Perbuatan yang sama akan menghasilkan nilai yang berbeda di sisi tuhan lantaran niat yang berbeda.

Dalam hidup keseharian kita, Nilai pekerjaan kita tergantung dari niat (motivasi) yang melandasinya. Seseorang yang bekerja dengan baik karena mengharapkan pujian dari atasannya dan mendapatkan kenaikan jabatan, boleh jadi akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Atasannya senang dan ia mendapatkan kenaikan pangkat. Tapi ia tidak akan mendapatkan apa-apa di sisi Tuhan.

Namun jika respon dari sang atasan tidak seperti yang diharapkannya, ia akan merasa kecewa dan tak lagi merasa perlu bekerja dengan baik. Bahkan bukan mustahil akan menjadi trouble maker yang menghambat kinerja perusahaan. Ia bukan menjadi pembawa beban, tapi malahan jadi beban, bahkan menciptakan beban-beban baru.

Berbeda halnya dengan orang yang bekerja sungguh-sungguh dengan ikhlas karena Tuhan. Baginya bekerja adalah ibadah. Karenanya ia akan berusaha keras melakukannya dengan sebaik-baiknya. Ia faham benar, semakin baik dan berkualitas ibadahnya, akan semakin tinggi ganjaran/pahala yang diterimanya di sisi Tuhan. Ia bekerja dengan baik karena Tuhan memerintahkan setiap orang yang beriman bekerja dengan baik. Ia berdisiplin lantaran Tuhan menyuruh hidup berdisiplin. Ia suka membantu dan menolong orang lain sebab Tuhan memang mengharuskan hamba-hamba-Nya untuk tolong-menolong.

Ia akan terus bekerja dengan baik apapun respon yang diterimanya dari orang sekitarnya. Jika atasan merespon dengan positif lalu menaikkan jabatannya, hal itu dinilainya sebagai nikmat tambahan dari Tuhan. Dan ia akan menjadikan jabatan dan rizki yang diterima sebagai sarana untuk meningkatkan kinerjanya.

Namun jika sang atasan ternyata cuek dan menganggap sepi kinerja yang dihasilkannya, ia tidak akan kecewa dan putus asa. Ia akan terus saja bekerja dengan baik. Ia tahu Tuhan maha melihat apa yang dikerjakannya, dan tidak akan pernah lalai mencatat amal shaleh yang dilakukan hambaNya. Sedangkan sikap sang atasan diserahkannya kepada Tuhan. Ia yakin dan percaya Tuhan akan memberikan balasan setimpal kepada mereka yang tidak berbuat adil.

Niat adalah urusan hati. Maka untuk menjaga agar niat kita ikhlas, tidak ada cara lain kecuali menjaga hati tetap bersih. Caranya buang jauh-jauh sifat-sifat dan perilaku yang merusak kebersihan hati.

Setidaknya ada tiga penyakit hati yang amat berbahaya. Yang pertama adalah takabur (sombong). Penyakit takabur berasal dari perasaan "lebih". Lebih pintar, lebih hebat, lebih kaya, lebih terhormat, lebih tinggi jabatan, dan seterusnya. Padahal tidak ada setitik debu pun hak manusia untuk sombong dan merasa lebih.

Semua berasal dari nenek moyang yang sama, yakni Adam dan Hawa. Semua kita juga berasal dari bahan baku yang sama, yakni pertemuan spermatozoa dengan sel telur.

Ketika lahir ke dunia, semua kita dalam kondisi yang sama yakni bodoh, lemah dan tidak punya apa-apa. Kita bodoh lantaran tidak tahu apa-apa, termasuk diri sendiri maupun orangtua. Yang kita tahu hanya menangis. Kita menjadi pintar dan berilmu, lantaran Tuhan berkenan memberikan ilmuNya kepada kita.

Kita lemah karena tak mampu berbuat apa-apa. Termasuk mengurus dan menolong diri sendiri. Makan, minum, buang air, membersihkan diri, semuanya ditolong oleh orang lain. Kita menjadi kuat lantaran Tuhan mengaruniai kita udara yang bersih, makanan dan minuman yang lezat dan bergizi tinggi, seperti ASI, daging, air dan sebagainya. Dengan itu Tuhan menjadikan kita sehat dan kuat, karena DIA Maha Gagah dan Maha Kuat.

Kita miskin, sebab setiap kita lahir dalam keadaan telanjang tanpa punya sehelai benangpun. Apalagi yang lebih dari itu. Kita jadi berpunya dan kaya lantaran Tuhan menganugerahkan rezeki yang berlimpah. Bukankah Tuhan satu-satunya yang Maha Pemberi Rezeki.

Tuhan amat murka kepada orang yang sombong dan takabur. Ingatlah kisah terusirnya iblis dari surga lantaran sombong dan takabur. Ia menolak perintah Tuhan menghormat Adam. Iblis merasa lebih mulia lantaran ia diciptakan dari api yang menyala, sedangkan Adam diciptakan dari tanah lempung yang hitam. Iblis juga merasa lebih senior karena diciptakan lebih dulu dari Adam. Pendeknya, kesombongan iblis bermula dari perasaan "lebih".

Dalam konteks kerja, sikap sombong dan merasa "lebih" akan menjauhkan orang dari sisi kita. Orang tidak ingin berteman, karena selalu merasa dilecehkan dan direndahkan. Padahal setiap orang ingin dihargai dan dihormati, dan tidak suka dilecehkan dan direndahkan.

Penyakit hati kedu yang amat berbahaya adalah iri hati dan dengki. Membiarkan penyakit iri hati dan dengki bersemayam dalam hati, sama artinya dengan menghancurkan diri sendiri. Di dunia hidup menjadi resah dan gelisah, sedangkan di akhirat mendapat azab yang amat pedih. Karena itu cegah penyakit iri dan dengki dengan selalu mengikhlaskan niat hanya untuk Tuhan semata, dengan begitu kita akan tetap bahagia dalam situasi dan kondisi apapun.

Jika mendapat nikmat dan sesuatu yang menyenangkan kita bersyukur. Caranya dengan menggunakan nikmat yang kita terima itu untuk menambah amal shaleh dan kebajikan. Namun jika kenyataan tak seperti yang kita harapkan, kita bersabar, karena dibaliknya pasti terdapat sejumlah kebaikan. Syukur dan sabar adalah kunci untuk sukses menjalani hidup, termasuk dalam dunia kerja.

Penyakit yang ketiga adalah riya (ingin dilihat dan dipuji orang). Penyakit ini akan membuat orang yang mengidapnya selalu dalam kelelahan dan kerisauan. Lelah karena hidupnya hanya untuk mendapat pujian orang, padahal jumlah manusia demikian banyak dengan berbagai orientasinya masing-masing. Risau karena faktanya tidak semua orang mau memujinya, malah mungkin mengejeknya.

Dalam hidup keseharian, riya juga membuat orang lain sebal. Sebab, ketika seseorang ingin dipuji, pada saat yang sama sebenarnya ia merendahkan orang lain, sedangkan setiap orang tidak ingin direndahkan.

2. Berpikir Jernih.

Upaya membangun dan mempertahankan kejujuran dan Integritas tidak cukup hanya sekedar bermodal hati yang bersih. Niat yang lurus adalah titik awal yang harus dilanjutkan dengan selalu bepikir jernih. Hati yang bersih harus terefleksikan dalam pikiran yang jernih. Hal ini penting, karena dalam realitas kehidupan termasuk dalam bekerja dan berbisnis, kita dihadapkan pada berbagai persoalan yang menuntut analisis yang cermat dan pemecahan yang cepat dan tepat. Dan hal itu hanya akan terjadi jika kita selalu berpikir jernih.

Pikiran yang jernih akan melahirkan gagasan yang brillian dan membimbing kita bekerja dengan benar. Gagasan brlillian amat diperlukan untuk memenangkan persaingan bisnis. Perubahan yang begitu cepat menuntut setiap profesional dan pelaku bisnis menghasilkan ide-ide dan kreasi baru yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pikiran yang jernih akan membuat kita dapat bekerja dengan benar. Kita bisa memahami mana yang benar dan mana yang salah, sehingga kita terhindar dari kesalahan. Jika kita terlanjur berbuat salah atau keliru, tidak akan terulang yang kedua kali.

Pikiran yang jernih juga akan membuat kita faham yang hakekat dan yang bentuk luar/relatif. Dengan begitu, kita faham benar mana yang harus dikejar dan yang hanya sekedar ada. Kita tidak terjebak dengan tampilan luar yang menipu. Salah satu yang kerap menyebabkan manusia salah jalan dan menyesal adalah karena terpesona oleh bentuk luar.

Pikiran yang jernih menjadikan kita mengerti mana yang prinsip dan mana yang teknis, yang mutlak dan yang relatif dan seterusnya. Dengan demikian kita tidak terjebak pada persoalan-persoalan kecil dan teknis dengan mengabaikan hal-hal yang prinsip dan mendasar. Dengan kata lain pikiran yang jernih akan mengantarkan kita mampu bertindak efektif, efisien, dan menempatkan sesuatu sesuai dengan prioritasnya masing-masing.

Salah satu penyebab kegagalan, termasuk dalam bekerja dan berbisnis adalah lantaran sibuk mengurusi hal-hal yang teknis, tetapi lupa kepada akar permasalahannya. Misalnya, kerap terjadi orang mengeluhkan minimnya sarana dan kurangnya fasilitas sebagai penyebab ketidakmampuannya menghasilkan kinerja terbaik. Padahal akar masalahnya adalah kurangnya etos kerja dan lemahnya kompetensi.

Pikiran yang jernih akan mendorong kita selalu persangka baik ( Husnuzh Zhan) dan berpikir positif. Kita akan sibuk mengevaluasi kekurangan diri dan kemudian berusaha memperbaikinya, ketimbang lelah mencari-cari kekurangan orang lain. Buahnya, hidup kita akan semakin produktif dan berkualitas.

Bersangka baik dan berpikir positif juga akan membuat kita mampu berpikir tenang dan jauh dari sikap emosional. Buahnya kita mampu menganalisa persoalan dengan akurat dan mendalam dan mengambil keputusan dengan tepat dan benar. Dengan kata lain, dengan berpikir jernih kita akan selalu menjadi problem solver  bukan trouble maker.

Tuhan menyuruh kita berpikir jernih, agar kita mampu menangkap hakekat dibalik apa yang nampak secara kasat mata, mengambil hikmah dibalik kejadian dan melihat jauh ke depan. Dengan demikian ia akan selalu optimis memandang masa depan.

Allah SWT berfirman ; "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang mau berpikir. Yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring dan senantiasa berpikir rahasia dibalik penciptaan langit dan bumi. Mereka berkata: Ya Tuhan kami tidaklah engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maka jauhkanlah kami dari azab neraka" (QS Ali Imran/3:190-191)

3. Bicara Benar.

Selalu berkata benar merupakan salah satu faktor yang harus dimiliki oleh seorang yang memiliki integritas. Seperti ungkapan: "Seorang yang memiliki iman itu dipegang omongannya". Maksudnya, Omongan seorang yang beriman itu harus dapat dipercaya karena taruhannya iman. Iman yang benar pasti akan melahirkan perkataan yang benar. Maka jika seseorang suka berbicara dusta dapat dipastikan imannya pun rusak. Bicara benar berarti satunya kata dengan perbuatan. Apa yang diucapkan akan selaras dengan apa yang dilakukan. Tuhan berfirman;

"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu selalu berkata benar" (QS Al Ahzab/33;70) .

Ayat ini selalu dikutip Rasulullah SAW saat beliau menyampaikan khutbah nikah. Pernikahan adalah awal seseorang memasuki kehidupan sejati orang dewasa. Karena itu pasangan suami istri harus memulainya dengan selalu berbicara benar. Dengan begitu komunikasi akan terjalin dengan baik dan rasa saling percaya akan terajut dengan kuat. Kelangsungan hidup betapapun mestilah dibangun atas dasar suatu kebenaran dan jangan dikotori dengan kebohongan.

Kehidupan suami istri yang notabene merupakan transaksi hanya antara dua individu yang berbeda saja harus dibangun dengan kebenaran, apalagi dunia kerja dan bisnis yang merupakan suatu bentuk transaksi besar yang melibatkan begitu banyak pihak dengan kepentingan yang berbeda-beda. Keharusan selalu berbicara benar itu akan sangat berpengaruh dalam kesuksesan berinteraksi dengan orang lain. Ucapan yang benar akan melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan akan menghasilkan bisnis. Agama mengajarkan kita selalu bicara benar dan baik. Jika kita tidak dapat berkata benar dan baik, lebih baik diam. Sebab berkata dusta bukan saja menyakiti hati orang lain tapi juga menipu diri sendiri. Celakanya lagi, satu kebohongan akan melahirkan berbagai kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Begitu seterusnya. Karena itu jangan sekali-kali berdusta, karena hal itu sama artinya membuka jalan untuk jadi pendusta. Sedangkan kebohongan dan dusta akan merusak dan menghancurkan Integritas diri.

Rasulullah SAW bersabda ;

"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia berkata benar dan baik atau diamlah" (HR Bukhari-Muslim).

4. Sikap dan Perilaku Terpuji

Kita tidak bisa menilai hati dan pikiran seseorang, sebab keduanya berada dalam wilayah yang abstrak. "Dalamnya laut bisa diselami, dalamnya hati siapa tahu", begitu bunyi sebuah syair. Demikian pula halnya dengan apa yang berkecamuk dalam otak seseorang, hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Kita hanya bisa menilai apa yang nampak dan kelihatan. Karenanya selain dari ucapannya integritas seseorang dapat dinilai dari sikap dan tindakannya. Jika caranya bersikap dan bertindak sesuai dengan yang dikatakannya, berarti orang tersebut memiliki integritas yang tinggi. Dengan kata lain, orang yang memiliki integritas pasti mempunyai sikap yang terpuji dan perilaku yang dapat diteladani. Dalam bahasa agama disebut akhlakul karimah (akhlak yang mulia).

Karakter seperti itulah yang dimiliki oleh Rasulullah SAW sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti agung" (QS Al Qalam/68:4).

Firman Tuhan di atas bermakna ganda. Pertama, sebagai pujian atas keagungan akhlak beliau. Kedua, sebagai penjelasan kenapa beliau yang diangkat sebagai Rasul, bukan banyak laki-laki lain dimasa itu. Risalah Tauhid yang harus diemban Rasulullah adalah amanat yang teramat besar, sehingga memerlukan orang dengan karakter dan sifat-sifat mulia pula. Jika tidak, tentu misi tersebut tidak akan dapat ditunaikan dengan baik. Karenanya, para rasul itu haruslah orang-orang terpilih diantara orang-orang pilihan (Al mustofa al akhyar).

Sejarah mencatat kemuliaan akhlak Rasulullah SAW itu sudah nampak sejak kecil, jauh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Orang-orang Arab Quraisy memberinya gelar Al-Amin (orang yang terpercaya). Kemuliaan akhlak ini pula yang menjadi kunci sukses beliau saat berniaga ke Syam (Sekarang Damaskus) bersama pamannya Abu Thalib, maupun ketika membawa barang dagangan milik Siti Khadijah. Begitu legendarisnya keluhuran akhlak beliau, sehingga belau menjadi standar harga di sana. Para pedagang belum akan menetapkan harga gandum (baik basah atau kering) sebelum beliau datang. Dan ketika beliau menetapkan harga, semua pedagang mengikutinya. Tak heran jika para saudagar Quraisy berebut memintanya membawa dagangan mereka ke Syam, sebab kafilah dagang yang dipimpin beliau selalu sukses dan membawa keuntungan yang besar. Tapi beliau lebih suka membawa dagangan pamannya atau membawa dagangan Siti Khadijah, seorang Saudagar wanita yang terkenal jujur, santun, dermawan dan berakhlak mulia, yang dikemudian hari menjadi istri beliau.

Kemuliaan akhlak adalah kata kunci kesuksesan Rasulullah SAW. Maka tak heran jika ia menjadi salah satu misi utama dakwah beliau, seperti sabdanya;

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia". Bahkan sedemikian pentingnya arti sikap terpuji dan akhlak yang mulia itu, sehingga beliau bersabda; "Sesempurna-sempurnanya iman seorang mukmin adalah yang paling mulia akhlaknya" (H.R Tirmidzi).

Kesuksesan Nabi SAW cukup menjadi bukti betapa akhlak mulia (di dalamnya ada sikap terpuji) adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin sukses dalam hidup. Termasuk dalam bekerja dan berbisnis. Dengan akhlak yang mulia kepercayaan akan terbangun, ketenangan akan tumbuh. Pada gilirannya, relasi akan semakin bertambah dan interaksi semakin terjalin. Buahnya bisnispun akan semakin menguntungkan.

5. Keteladanan.

Realitas sosial menunjukkan, contoh nyata merupakan cara paling efektif membentuk masyarakat. Baik itu yang baik maupun yang buruk.

Berbagai perilaku menyimpang yang melanda masyarakat kita hari ini tak dapat dipisahkan dari teladan buruk yang dicontohkan para pemimpin dan publik figur. Merajalelanya korupsi dan kolusi ditengah masyarakat sebenarnya sekadar mencontoh dan mengikuti apa yang dilakukan para pejabat dan pemimpin. Meluasnya perilaku amoral dan asusila di tengah masyarakat kita sesungguhnya buah dari perilaku buruk yang dicontohkan para elite dan selebritis.

Sebaliknya, teladan yang baik telah diperlihatkan Rasulullah SAW dalam kehidupannya. Beliau tidak pernah jemu mengajak manusia ke jalan Allah, kapanpun dan dimanapun. Nyaris seluruh waktu hidupnya dihabiskan untuk menyeru manusia ke jalan yang benar. Namun yang jauh lebih hebat lagi adalah keteladanan yang dicontohkannya. Beliau melakukan lebih dulu suatu kebajikan, sebelum mengajarkannya kepada orang lain. Jika para jenderal umumnya menjadi orang yang paling terakhir maju ke medan perang dan yang paling awal diselamatkan, beliau sebaliknya, Nabi SAW selalu berada di barisan terdepan para mujahidin dan paling belakangan mundur,  jika strategi perang mengharuskan mundur selangkah. Beliau bukan hanya teladan dalam perang atau kepemimpinan tapi juga teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan.

Keteladanan Rasulullah SAW yang luar biasa itu adalah pesona utama dakwah beliau. Manusia begitu tertarik dengan ajaran yang dibawanya, dan menjadi lebih tertarik lagi setelah melihat keteladanan beliau. Nabi SAW bukan sekedar mengajarkan, tapi memberi contoh. Keteladanan itu pula yang membuat para sahabat dan kaum muslimin bersikap "Sami'na Wa atho'na" terhadap apapun yang diajarkannya. Begitu luar biasanya keteladanan beliau contohkan sehingga Allah SWT mengabadikannya dalam Al Qur'an :

"Sungguh telah ada dalam diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut nama Allah" (QS Al Ahzab/33:21.

Begitulah keteladanan itu bagaikan magnet yang menarik orang di sekeliling kita. Semakin tinggi dan berpengaruh seseorang, semakin kuat magnet yang dimilikinya. Jika ia berperilaku baik, maka ia telah menarik orang berbuat baik. Tapi jika ia berperilaku buruk, sama artinya ia telah menyuruh orang banyak berperilaku buruk. Rasulullah SAW menyatakan:

"Barang siapa menunjukkan jalan kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala pelaku kebaikan tersebut" (HR. Muslim)

Dan begitulah seharusnya yang dilakukan oleh pemimpin. Pemimpin harus mau dan mampu menjadi contoh, memberikan keteladan. Banyak hal yang tidak bisa dipecahkan dengan perkataan, tapi bisa segera teratasi dengan keteladanan. Seorang pemimpin akan mengambil tanggung jawab terbesar dan bersedia menanggung resiko terbanyak. Seorang pemimpin akan berusaha menjadi panutan sekaligus juga pengayom.

Dan bukankah setiap kita adalah pemimpin, setidaknya pemimpin bagi diri kita sendiri.







Bondan Seno Prasetyadi
PT. Bahana Artha Globalindo
081212958958, 081513958958, 08111195958
 


sumber : dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar